Showing posts with label Teknologi Terkini. Show all posts
Showing posts with label Teknologi Terkini. Show all posts

Mantap Indonesia akan Miliki 12 Heli H-47 Chinook untuk Misi Tempur dan Tangani Bencana Alam

Mantap Indonesia akan Miliki 12 Heli H-47 Chinook untuk Misi Tempur dan Tangani Bencana Alam


JAKARTA,- Jika tidak ada aral melintang pada tahun 2019 mendatang Pusat Penerbangan TNI AD (Puspenerbad) akan menerima 12 unit heli transpor H-47 Chinook dari AS.

Kehadiran heli Chinook untuk memperkuat alat utama sistem senjata (alutsista) TNI AD memang sangat dibutuhkan mengingat selama ini helikopter angkut yang dimiliki oleh Puspenerbad jumlahnya masih terbatas.

Heli jenis Chinook sendiri oleh militer AS telah dioperasikan pada Perang Vietnam (1955-1975) dan dikenal sebagai ‘pisang terbang’ (flying banana) karena bentuk bodinya yang seperti pisang.

Penggunaan heli Chinook yang bisa mengangkut pasukan dan logistik dalam jumlah besar itu memang sangat diperlukan TNI AD.

Apalagi kesatuan ini selalu menjadi tulang punggung dalam operasi penanganan bencana alam bersama-sama pasukan TNI lainnya.

Untuk keperluan operasional baik misi tempur maupun non tempur, TNI AD biasa menggunakan heli transpor jenis Mi-17 buatan Rusia sebanyak 16 unit , 14 unit heli Bell 412 (AS), dan 30 unit heli BO-105 (Jerman).
Mantap Indonesia akan Miliki 12 Heli H-47 Chinook untuk Misi Tempur dan Tangani Bencana Alam
Sebagai heli transpor, Mi-17 menjadi andalan TNI AD karena bisa mengangkut pasukan bersenjata lengkap sebanyak 24 personel atau membawa logistik sebanyak 5000 kg.

Sementara Bell-412 buatan AS yang proses perakitannya sudah bisa ditangai oleh PTDI bisa membawa pasukan sebanyak 13 personel atau 3000 kg barang.

Sedangkan heli BO-105 yang merupakan heli buatan Jerman, merupakan heli transpor dan juga sekaligus heli serang yang bisa mengakut 4 orang atau barang sebanyak 1000 kg.


Jika dibandingkan dengan heli transpor yang sudah dimiliki TNI AD, kehadiran heli Chinook yang berbentuk unik karena merupakan ‘heli tandem’ memang sangat menyolok.

Sebagai helikopter yang memiliki dua baling-baling utama, Chinook memiliki ukuran panjang 30 meter, tinggi 5,7 meter, dan bisa mengangkut 55 tentara bersenjata lengkap atau sekitar 11.000 kg barang.

Selain itu sebagai heli transpor sekaligus tempur, Chinook juga dipersenjatai sejumlah senapan mesin untuk melindungi para tentara yang sedang keluar atau masuk kedalam helikopter.

Karena bisa mengangkut barang demikian banyak, maka Chinook sebagai heli transpor sangat diandalkan untuk menangani bencana alam yang bersifat regional atau nasional.

Ketika terjadi bencana gempa bumi dan tsunami Aceh (2004) Indonesia mendapat pelajaran berharga.

Terbukti, begitu vitalnya peran heli Chinook yang dioperasikan oleh sejumlah negara dalam penanganan bencana secara tepat dan akurat.

Indonesia bahkan sampai menyewa 5 heli Chinook dari AS untuk memperlancar penanganan bencara alam di Aceh.

Didorong oleh pengalaman berharga itu, pada tahun 2016 Kementerian Pertahanan RI menandatangai pembelian sebanyak 12 unit heli Chinook yang rencananya dikirim secara bertahap mulai tahun 2019.

(Agustinus Winardi/Intisari)
Editor: iwanoganapriansyah

Mampir di Jakarta, Pesawat Airbus A400M Ditugaskan Angkut Bantuan ke Lombok

Mampir di Jakarta, Pesawat Airbus A400M Ditugaskan Angkut Bantuan ke Lombok


Memanfaatkan 2 kesempatan, pemerintah Indonesia selain melihat spesifikasi pesawat angkut Airbus A400M untuk menggantikan pesawat angkut Hercules yang sudah tua.

Pesawat kargo militer buatan Airbus Perancis tersebut juga dimanfaatkan untuk mengangkut bantuan kemanusiaan seberat 25 ton ke Pulau Lombok atas nama pemerintah Indonesia.

Pesawat transpor militer buatan Airbus A400M itu merupakan satu dari sekian pesawat Angkatan Udara Prancis yang sedang menjalankan misi di Indonesia, yang juga akan melawat ke Australia, Malaysia, Singapura dan India, lapor Radio France Internationale Jumat (24/8/2018).
Mampir di Jakarta, Pesawat Airbus A400M Ditugaskan Angkut Bantuan ke Lombok
Pesawat A400M itu tiba di Indonesia pada 19 Agustus bersama beberapa pesawat Prancis lainnya, kata staf umum di Paris.

Atas permintaan pihak berwenang Indonesia, pesawat militer itu mengangkut 25 ton material bangunan dan makanan, serta 10 anggota tim penyelamat, ke Lombok hari Jumat pagi.
Sebelum kembali ke Prancis lewat jalur Asia, pesawat itu akan bergabung dengan 3 pesawat Rafales, sebuah Boeing A310 dan sebuah C135 dalam misi Pรฉgase 18 untuk ambil bagian dalam latihan militer internasional di Australia. Pesawat A400M itu akan tiba kembali ke Prancis pada 4 September

Pakar: Pesawat Tempur Baru Iran Menggelikan, Target Empuk F-22 AS

Pakar: Pesawat Tempur Baru Iran Menggelikan, Target Empuk F-22 AS


WASHINGTON - Kowsar, pesawat tempur baru Iran yang diklaim buatan dalam negeri masih menarik perhatian para pakar militer. Peluncuran pesawat itu dianggap sebagai kejadian menggelikan dan akan jadi bumerang karena Kowsar bisa jadi target empuk jet tempur canggih Amerika Serikat (AS), seperti F-22.

Para pakar merasa geli dengan peluncuran Kowsar karena yakin, pesawat tempur itu mirip pesawat F-5 Tiger Amerika yang sudah usang.

Para ahli militer Barat penasaran dengan keampuhan senjatanya. Namun, mereka tetap menghargai pesawat yang berpotensi untuk pelatihan.

"Ini hampir seperti peristiwa yang menggelikan," kata Michael Pregent, seorang analis Timur Tengah di Hudson Institute yang berbasis di Washington, dalam wawancara dengan VOA Persian.


Pakar: Pesawat Tempur Baru Iran Menggelikan, Target Empuk F-22 AS

Komentar Pregent itu mengacu pada laporan stasiun televisi pemerintah Iran pada hari Selasa lalu yang menyebutkan bahwa Kowsar merupakan pesawat jet tempur generasi keempat yang diproduksi sendiri oleh Iran dengan sistem avionik terdepan.

Peluncuran Kowsar dihadiri Presiden Hassan Rouhani yang duduk di kokpit sambil memeriksa jet tempur tersebut.

Stasiun televisi pemerintah Iran juga memamerkan adegan pesawat Kowsar saat lepas. Video itu direkam dari dalam kokpit.

Israel sebelumnya meledek pesawat tempur terbaru Teheran dengan menyebutnya sebagai jiplakan jet tempur F-5 Tiger AS buatan 1960-an. Sebelum revolusi pecah tahun 1979, Iran membeli setidaknya 140 unit F-5 Tiger dari AS pada 1970-an.

"Ini adalah pesawat yang tidak kami gunakan dalam 20 tahun, kecuali untuk melatih negara lain dalam cara menerbangkan pesawat Amerika," kata Pregent, yang dilansir Minggu (26/8/2018). "Teknologi kuno ini tidak mengintimidasi."

Pregent mengatakan keterbatasan Kowsar sebagai pesawat tempur modern dapat menjadi bumerang bagi Iran.

"Iran ingin dapat memproyeksikan kemampuan ofensif (udara) di Selat Hormuz dan setidaknya menunjukkan kemampuan yang sama untuk menyerang pasukan Amerika di Irak dan Suriah," katanya.

"Tapi saya pikir (peluncuran Kowsar) akan menjadi bumerang, karena AS akan meningkatkan postur pertahanannya di Irak dan Suriah dan membuatnya sangat mudah untuk menembak salah satu dari mereka," ujarnya.

Setiap pesawat tempur Iran yang menyeberang ke Irak atau Suriah dapat menghadapi jet-jet tempur canggih AS, termasuk F-16 dan F-22. Dua jet tempur AS itu rutin terbang di atas wilayah Irak dan Suriah sebagai bagian dari Operation Inherent Resolve, operasi koalisi pimpinan AS melawan kelompok militan Islamic State atau ISIS.

Tetapi Kowsar mungkin melayani satu tujuan yang bermanfaat bagi Iran. Dalam laporan Selasa, kantor berita pemerintah Iran, Fars, mengatakan fungsi utama pesawat tempur itu adalah untuk misi pelatihan.

Justin Bronk, seorang analis tempur udara di Royal United Services Institute (RUSI) Inggris, mengatakan kepada Business Insider bahwa Iran telah menghadapi krisis pilot pesawat tempur.

"Iran telah lama mengandalkan sekelompok pilot veteran yang semakin tua, banyak yang dilatih oleh AS sebelum revolusi," kata Bronk.

Menurut Bronk, menggunakan Kowsar untuk melatih generasi muda pilot Iran bukanlah ide yang buruk. "Itu membuat sebagian besar pilihan teknologi terbatas yang mereka miliki," katanya.
(mas)

4 Senjata Canggih Indonesia yang Bikin Dunia Segan

4 Senjata Canggih Indonesia yang Bikin Dunia Segan

Atraksi kendaraan tempur dalam acara HUT ke-72 TNI di Dermaga Indah Kiat Cilegon, Banten, Kamis (5/10). Acara HUT ini dimeriahkan oleh demo tempur 5.932 pasukan dan alat utama sistem persenjataan (alutsista) baru dan canggih. (Liputan6.com/Angga Yuniar)
Liputan6.com, Jakarta - Indonesia menjadi salah satu negara terkuat di Asia Tenggara. Salah satu ukurannya adalah kualitas prajurit militernya.

Di sisi lain, Indonesia juga memiliki senjata yang tak kalah canggih dengan negara-negara lain. Bahkan Indonesia punya senjata buatan sendiri, yang diekspor ke negara lain seperti Singapura dan Thailand. PT Pindad yang membuat senjata canggih Indonesia yang dikirim ke luar negeri.

PT Pindad mampu memproduksi berbagai jenis senjata antara lain; jenis senapan serbu (SSI-VI, SS2-V2, SS1-V3, SS1-V5), Senapan sniper (SPR-1) pistol (P-1, P-2), revolver (R1-V1, R1-V2, RG-1 (tipe A), RG-1 (tipe c), senapan sabhara/polisi (Sabhara V1 and Sabhara V2), senjata penjaga hutan, pistol profesional magnum, peluncur granat dan pelindung tubuh (personal body protection).

Selain senjata buatan sendiri, Indonesia juga melengkapi alutsista militernya dengan senjata yang dikirim dari luar negeri. Seperti dikutip dari berbagai sumber, berikut beberapa senjata-senjata canggih milik Indonesia:

1. Kapal Selam KRI Nagapasa-403

 1. Kapal Selam KRI Nagapasa-403
Sejumlah prajurit TNI melakukan aksi pengamanan dengan kekuatan militer yang di miliki TNI saat geladi resik HUT TNI ke-72 di Cilegon, Banten, Selasa (3/10). (Liputan6.com/Angga Yuniar)
Pertama ada kapal selam milik TNI AL yang datang dari Korea Selatan. Senin (28/8) Kasal Laksamana Ade Supandi secara resmi menyambut kehadiran Kapal selam KRI Nagapasa-403.

Kapal selam KRI Nagapasa-403 memiliki panjang 61,3 meter dengan kecepatan 21 knot di bawah air mampu berlayar lebih dari 50 hari dan menampung 40 kru. Kapal selam ini juga dipersenjatai torpedo dengan fasilitas delapan buah tabung peluncur.

Kapal selam DSME209 produksi DSME ini merupakan kapal selam teknologi tempur terbaru. Dilengkapi dengan peluncur torpedo yang mampu meluncurkan torpedo 533 mm dan peluru kendali antikapal permukaan yang merupakan modernisasi armada kapal selam TNI Angkatan Laut.

KRI Nagapasa-403 merupakan kapal selam kelas 209/1400 pertama dari tiga buah kapal selam sejenis yang dibangun di Korea Selatan dan Indonesia.

 2. Hercules C-130
2. Hercules C-130
Pesawat Hercules C-130 terbaru tiba di Pangkalan Udara Abdulrachman Saleh di Malang pada Senin (28/8). Kedatangan pesawat angkut berat C-130 menambah jumlah Hercules yang dipunyai TNI Angkatan Udara menghuni Skadron Udara 32 Wing 2 Lanud Abd Saleh.

Keunggulan C-130 antara lain terbukti dari kemampuan operasi mulai dari dukungan Logistik, pasukan, kemanusiaan dan dukungan operasi lainnya. Pasukan khusus TNI atau pasukan pemukul reaksi cepat dapat langsung diterjunkan ke sasaran dengan pesawat angkut yang sudah melegenda ini.

Penempatan C-130 di Malang karena Pangkalan Udara Abdulrachman Saleh sudah mempunyai peralatan komplet perawatan Hercules C-130 yang menjadi pangkalan induk.


3. Raytheon AGM-65K2

Raytheon AGM-65K2 adalah salah satu rudal andalan Indonesia yang dipasang pada pesawat tempur F-16. Rudal ini memiliki diameter 300 mm dan panjang 2,49 meter. Jika digunakan dalam keadaan baik, rudal Raytheon bisa menempuh jarak tembak hingga 24 kilometer. Raytheon sendiri memiliki kecepatan hingga 1.100 km per jam. Jadi bisa dibayangkan betapa cepatnya rudal ini bergerak sebelum akhirnya mengenai sasaran.
3. Raytheon AGM-65K2
Raytheon AGM-65K2 diproduksi oleh Amerika dan telah digunakan oleh 30 negara di dunia. Hingga sekarang produksi rudal ini sudah mencapai 70.000 unit sejak pertama kali dibuat di tahun 1972. Rudal ini menjadi senjata andalan Indonesia yang dioperasikan oleh Skadron Udara bersama 10 unit F-16 serta 24 F-16 C/D.


4. Rudal RBS-15 MK3

RBS-15 MK3 adalah salah satu rudal multi platform yang sangat hebat hingga saat ini. Rudal ini bisa dipasang di truk, pesawat tempur hingga kepal perang.

Untuk RBS-15 MK3 ini Indonesia memasangnya pada Kapal Cepat Rudal atau KCR dengan nama Klewang. Hingga saat ini Indonesia telah memiliki 4 unit peluncur rudal RBS-15 MK3 yang bisa membuat negara tetangga ketar-ketir.
4. Rudal RBS-15 MK3
Rudal RBS-15 MK3 memiliki panjang hingga 4,35 meter dengan wingspan 1,4 meter. Berat satu rudal bisa mencapai 800 kg dan jarak tempuhnya 200 kilometer. Kecepatan rudal ini lumayan tinggi hingga akan mengenai sasaran dalam jangka waktu yang sangat singkat.

RBS-15 MK3 adalah rudal hebat milik Jerman yang nyaris dipakai oleh banyak negara di Eropa seperti Swedia dan Polandia.


Reporter : Fellyanda Suci Agiesta
Sumber : Merdeka.com

Nyaris Disengat Torpedo Kapal Selam Cakra Class, Inilah Profil HMAS Kanimbla

Nyaris Disengat Torpedo Kapal Selam Cakra Class, Inilah Profil HMAS Kanimbla


Di periode 1999-2000, hubungan Indonesia dan Australia mencapai tensi tertinggi terkait campur tangan Australia dalam jejak pendapat di Timor-Timur. Dan salah satu penggalan yang menarik dari ‘drama’ tersebut adalah terungkapnya bahwa salah satu kapal angkut yang juga berperan sebagai kapal komando, HMAS Kanimbla (L51), ternyata pernah nyaris menjadi sasaran ganasnya torpedo kapal selam TNI AL Cakra Class (Type 209/1300).

Memang tak disebutkan nama kapal selam (KRI) yang terlibat pada ketegangan di Laut Timor tersebut, tapi pada saat itu TNI AL mengoperasikan dua unit Type 209/1300, yakni KRI Cakra 401 dan KRI Nanggala 402, namun bisa dibayangkan bencana yang terjadi jika Sang Monster Laut benar-benar meluncurkan torpedo SUT ke kapal dari jenis LST (Landing Ship Tank) dengan bobot 8.534 ton tersebut. Peristiwa itu disebutkan dituangkan Seto Ajinugroho dalam situs grid.id, yang mengambil sumber naskah dari buku “50 Tahun Pengabdian Korps Hiu Kencana.”

Flash back, peran utama Australia dalam misi INTERFET (International Force East Timor) menjadikan cukup maraknya aksi pelanggaran batas laut dan udara oleh pesawat, helikopter dan kapal perang dari arah Australia Utara. Dan di birunya lautan, dikisahkakan salah satu Cakra Class yang suatu hari sedang meronda di kawasan Laut Timor, menangkap noise sonar yang berasal dari kapal permukaan yang bergerak ke arah Dili di Pulau Timor. Sebagai tindak lanjut, komandan kapal selam perlahan-lahan mengarahkan kapal ke kedalaman periskop.

Dan tertangkaplah obyek berupa iring-iringan kapal perang, yang salah satunya diketahui LST HMAS Kanimbla milik AL Australia yang dikawal oleh dua frigat milik AL Selandia Baru. Ketiga kapal itu masuk teritori laut negara Indonesia tanpa izin untuk menuju Dili. Ketiga kapal tersebut dipastikan telah masuk ke wilayah perairan Indonesia tanpa izin.

Karena dianggap melanggar hukum internasional, Type 209 TNI AL segera melakukan penindakan. Kapal selam Type 209 yang battle proven dalam Perang Malvinas bergerak lebih agar ketiga kapal itu masuk dalam jangkauan serangan point blank range torpedo. Lantas disiapkanlah torpedo untuk menenggelamkan HMAS Kanimbla dan kedua frigat itu.
Nyaris Disengat Torpedo Kapal Selam Cakra Class, Inilah Profil HMAS Kanimbla
Sebagai kapal perang modern, sudah pasti kemampuan peperangan dan sonar ketiga kapal tersebut langsung bereaksi dengan hadirnya ancaman dari kapal selam. Sontak kedua frigat telah mengetahui hadirnya kapal selam, namun kedua frigat tidak berhasil mengetahui posisi alias keberadaan persisnya kapal selam tersebut.

Peran tempur bahaya bawah air sudah dikibarkan oleh awak frigat Selandia Baru dan LST Australia. Namun berkaca pada aksi Type 209 yang tak berhasil diburu oleh armada AL Inggris dalam Perang Malvinas, membuat komandan HMAS Kanimbla gentar, ancaman sengatan torpedo AEG SUT 533 mm buatan Jerman sudah barang tentu sangat fatal.

Komandan HMAS Kanimbla pun mengambil langkah cepat menjalin komunikasi dengan pemerintah Australia atas kejadian menegangkan tersebut. Mengetahui hal itu, pihak Canberra segera mengontak Jakarta agar ‘menetralisir’ keadaan di laut Timor dan meminta izin berlayar menuju Dili bagi ketiga kapal perang tersebut.

Setelah masalah di level atas bisa diselesaikan, selanjutnya Type 209 TNI AL diperintahkan agar tidak menghalangi iring-iringan konvoi tersebut ke Dili karena sudah ada keterangan dari pihak Australia kepada Indonesia. Sesuai perintah, kapal selam kemudian keluar ke permukaan air dan terus membayang-bayangi HMAS Kanimbla.


Dari kejadian di atas, yang menarik perhatian adalah sosok HMAS Kanimbla. Di kelas yang sama, Australia mempunyai satu unit kapal yang sama, yakni HMAS Manoora (L52). Kapal LST ini awalnya adalah milik AL AS, sebelum menjadi milik Australia, HMAS Kanimbla bernama USS Saginaw (LST-1188). Kapal ini dibangun oleh galangan National Steel & Shipbuilding Company. Peletakan lunas pertama pada 24 Mei 1969, kemudian diluncurkan pada 7 Februari 1970 dan masuk dinas AL AS pada 23 Januari 1971.

HMAS Kanimbla dan HMAS Manoora.

Lantas pasa Juni 1994, HMAS Kanimbla dijual ke AL Australia (Royal Australian Navy) dan resmi masuk kedinasan pada 29 Agustus 1994. Tidak seperti halnya LST yang ada di jajaran TNI AL, pintu rampa HMAS Kanimbka justru berada di bagian buritan, sehingga menyerupai desain LPD (Landing Platform Dock), meski tidak ada fasilitas dock basah di kapal perang ini.

Dari segi daya angkut, HMAS Kanimbla bisa membawa 400 pasukan infanteri. Luas deck di dalam mencapai 1,765 m2. Secara teori kapal ini dapat mengangkut 29 tank medium atau 30 tank amfibi jenis LVTP-7. Dua landing craft LCM8 dengan kapasitas 54,4 ton dapat dibawa dengan penempatan pada bagian depan anjungan.

HMAS Kanimbla punya panjang 159,2 meter dan lebar 21,2 meter. Dimensinya yang cukup besar membawa berkah tersedianya flight deck yang lumayan besar. Tiga helikopter sedang sekelas Black Hawk dapat mendarat di deck. Sementara fasilitas hanggar juga memadai, dengan bisa menampung empat helikopter Black Hawk dengan baling-baling dilipat.

Seperti halnya HMS Albion yang baru saja merapat di Jakarta, HMAS Kanimbka juga dilengkapi senjata utama berupa kanon CIWS (Close In Weapon System) Phalanx M15 kaliber 30 mm, selain enam pucuk senapan mesin berat M2HB 12,7 mm.

Seiring modernisasi yang dilakukan AL Australia, dan karena alasan biaya retrofit yang terlalu mahal, maka HMAS Kanimbla dan HMAS Manoora tak lagi dioperasikan. HMAS Kanimbla telah terjual untuk di scrap pada 20 Mei 2013. Sebagai gantinya, kini kekuatan transport dan amfibi Australia bertumpu pada Landing Helicopter Dock (LHD) Canberrra Class dan LPD HMAS Choules. (Gilang Perdana)

Bakamla RI Luncurkan Kapal Baru

Bakamla RI Luncurkan Kapal Baru


Badan Keamanan Laut Republik Indonesia (Bakamla RI) meluncurkan Kapal Negara (KN) Tanjung Datu-1101, di Dermaga PT Palindo Marine Shipyard, Batam, Provinsi Kepri, Senin (20/11).

KN Tanjung Datu 110, merupakan kapal patroli terbesar dan pertama di bangun di Indonesia, memiliki detail spesifikasi sebagai berikut :


Bakamla RI Luncurkan Kapal BaruPanjang keseluruhan (LOA) : 110.00 m
Lebar maks (B) : 15.5 m
Tinggi main deck (H) : 6.90 m
Sarat : 3.80 m
Displacement : 2327 Ton
Heli Deck : 8.00 Ton
Kap. Tangki Bahan Bakar : 264 m3
Kap. Tangki Air Tawar : 252 m3
Kru/ABK : 76 orang
Akomodasi Tambahan : 56 orang
Mesin Penggerak Pokok : 2 Unit@5300 HP
Diesel Generator : 4 Unit@250Kva
Kecepatan Maks : 18 knot
Kecepatan Jelajah : 15 knot
Daya Jelajah : ± 2500 nm @12 knot

Nama KN Tanjung Datu sendiri diambil dari nama daerah perbatasan Indonesia dengan Malaysia, tepatnya di Kelurahan Temajuk Kecamatan Paloh, Kab. Sambas, Prov. Kalbar, dimana terdapat mercusuar setinggi 43 meter di kawasan hutan lindung lereng Gunung Datu sebagai penanda batas kepemilikan wilayah RI. Menara suar tersebut dibangun pada tahun 1885 semasa Raja Belanda Willem III, sebagai rambu lalu lintas di sekitar perairan Tanjung Datu dan Kepulauan Natuna yang berada dalam lingkup Laut Natuna Utara.

Kategori

Kategori