Showing posts with label sejarah. Show all posts
Showing posts with label sejarah. Show all posts

AS, Inggris & Australia diyakini terlibat peristiwa 1965 di Indonesia

AS, Inggris & Australia diyakini terlibat peristiwa 1965 di Indonesia

Sri Lestari Wahyuningroem dari Internasional People's Tribunal (IPT) 65, mengatakan ada tiga negara yang terlibat secara langsung dalam peristiwa 1965 di Indonesia. Negara itu adalah Amerika, Australia, dan inggris.

Konteksnya saat itu adalah perang dingin yang melibatkan Amerika Serikat dan sekutunya melawan Uni Soviet. Peneliti FISIP UI itu menyebut bentuk keterlibatan ketiga negara berbeda-beda dalam menyokong peristiwa 65. Australia terlibat dengan propaganda. Sedangkan, Inggris ikut terlibat dengan propaganda serta materil.

Sementara, Amerika, dugaannya, terlibat lebih dalam saat peristiwa 1965. Menurutnya, arsip yang dibuka AS, belum memperlihatkan sepak terjangnya lantaran ada dokumen mengenai CIA yang masih ditutupi.

Sebelumnya, badan Keamanan Arsip Nasional AS dan Pusat Pengungkapan Dokumen Nasional (NDC), membuka 39 dokumen berisi 30 ribu lembar terkait peristiwa 1965 dalam bentuk digital. Dokumen rahasia itu merupakan laporan kedutaan besar Amerika Serikat tahun 1964-1968 dengan judul ' Jakarta Embassy Files'.

"Yang belum keluar dokumen-dokumennya itu dari pihak politik-politiknya Indonesia termasuk CIA itu tadi, CIA belum ada yang dirilis karena saya curiga data-data itu membuktikan secara langsung keterlibatan Amerika itu seperti apa dalam kudeta itu maupun dalam pembunuhan massal," ujar Ayu di kantor Amnesty Internasional Indonesia, Jumat (20/10).

Menurut Ayu, dalam dokumen itu bisa membuktikan ada dugaan uang yang diberikan AS kepada Indonesia. Serta, bukti Inggris membantu persenjataan ketika itu.

Negara-negara itu punya keterlibatan dan menjatuhkan tahta Soekarno ketika itu. Namun, sulit untuk membuktikan sebelum dokumen berisi kawat dari Amerika Serikat ke Kedutaan Besar AS saat terungkap.

Ayu menyebut AS sempat mentransfer sejumlah besar uang ke TNI AD usai peristiwa 1965. Hal itu menurutnya merupakan permintaan dari petinggi TNI AD.

"Itu tidak lama itu Oktober 1965 mereka memenuhi permintaan TNI AD untuk mentransfer uang. Inggris menyuplai senjata apalagi nih kan kita tidak tahu? Justru dokumen-dokumen itu belum dibuka sama Amerika," jelasnya.

Ayu menjelaskan dokumen yang saat ini terungkap lantaran desakan ke pemerintah AS untuk membuka arsip sesuai undang-undang di sana. Hanya saja pemerintah AS tidak membuka dokumen penting yang menyandung CIA.

Karena itu, Ayu menilai upaya pemerintah Indonesia menyenggol pemerintah AS sia-sia. Seharusnya, pemerintah Indonesia juga membuka arsip 65 guna membuka titik terang kebenaran sejarah. Dan dalam UU, pemerintah bisa didesak untuk mengungkapnya.

"Bahwa negara membuka dokumen-dokumennya itu harus. Ada UUnya kok jadi kita ga bicara ngawur," tutupnya.

Menanggapi dokumen-dokumen tersebut, Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu bakal menanyakan soal dokumen tersebut kepada Menteri Pertahanan AS saat bertemu di Filipina.

"Nanti saya temuin Menhannya. Saya akan ketemu dengan Menhan Amerika tanggal 25," kata Ryamizard di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (18/10).

Ryamizard meyakini dokumen rahasia yang dibuka Badan Administrasi Rekaman dan Arsip Nasional AS (NARA) tidak akan berpengaruh terhadap situasi nasional.

"Enggak saya bilang. Tergantung kita mau keruh atau tidak, kalau kita enggak mau, enggak mau lah, enggak usah. Kadang-kadang kita sendiri buat-buat," tegasnya. [ian]

Tragedi Kedung Kopi, saat PKI bantai 23 lawan politiknya

Tragedi Kedung Kopi, saat PKI bantai 23 lawan politiknya


Kisah kebiadaban PKI (Partai Komunis Indonesia) di Kota Solo, memang tak lepas dari peristiwa pembantaian di Kedung Kopi, 22 Oktober 1965. 23 warga Solo yang melakukan demonstrasi mengecam PKI, menjadi korban kekejaman komunis dan dibuang di salah satu sudut aliran Sungai Bengawan Solo, Kelurahan Pucangsawit, Kecamatan Jebres tersebut.

Saksi hidup Usman Amirudin (79), dan sejumlah warga yang mengalami peristiwa tersebut mengisahkan, saat itu puluhan pemuda yang hanya rakyat biasa ditangkap, ditembaki dan kemudian dibuang di Kedung Kopi. Saat ini lokasi yang merupakan bantaran Sungai Bengawan Solo itu, dibangun taman dan prasasti.

Usman yang saat ini bekerja di bidang konstruksi tersebut mengisahkan, terjadinya tragedi pembantaian bermula saat munculnya kabar dari Dewan Revolusi di Jakarta hingga terjadinya peristiwa penculikan sejumlah jenderal oleh PKI pada 30 September 1965.

Peristiwa di Jakarta tersebut, lanjut Usman, kemudian merembet ke Solo, apalagi Wali Kota Oetomo Ramelan yang menjabat saat itu berasal dari PKI. Beberapa prajurit militer di Solo, menurut Usman, bahkan juga anggota PKI.

"Setelah mendapat kabar itu, potensi masyarakat non-PKI (nasionalis dan agama) menyatu untuk saling menjaga. Suasana di Solo saat itu, setiap hari seperti perang, mulai 30 September sampai 22 Oktober, dan masing-masing gang ditutup oleh pihak kami," ujar Usman saat ditemui merdeka.com di rumahnya, Kelurahan Bumi, Laweyan, Rabu (26/9).
Tragedi Kedung Kopi, saat PKI bantai 23 lawan politiknya
Usman yang saat itu menjadi anggota Pemuda Muhammadiyah menambahkan, di saat bersamaan para anggota PKI yang tergabung dalam Pemuda Rakyat juga melakukan hal yang sama. Mereka berkeliling kampung untuk menteror masyarakat sipil.

"Sudah, masuk ke rumah masing-masing, ndak usah kumpul-kumpul. Ini urusan intern Angkatan Darat, masuk saja," ucap Usman menirukan kata-kata teror anggota Pemuda Rakyat.

Namun, lanjut Usman, masyarakat yang sudah bersatu, tak mau menuruti gertakan mereka dan tetap berjaga-jaga. Namun makin lama, sikap represif mereka semakin terlihat dengan cara mempersenjatai diri dengan parang, gebugan (alat pemukul), rantai dan lainnya.

Kondisi tersebut membuat masyarakat panik, karena mereka tidak tahu ke mana harus berlindung. Namun pada akhirnya, warga meminta bantuan ke Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) agar masuk ke Solo. Masyarakat menyambut kedatangan RPKAD pada 22 Oktober 1965 dengan suka cita. Namun sayangnya pada sore harinya RPKAD sudah kembali ke Magelang.

Prihatin dengan pemberontakan PKI di Jakarta, masyarakat Solo yang sudah merasa aman, selepas Zuhur melakukan aksi demonstrasi di depan toko batik kawasan Gladag Jalan Slamet Riyadi atau depan rumah tokoh yang ditengarai sebagai donatur PKI di Nonongan. Usai berdemo, para pemuda ini sudah diperintahkan untuk kembali ke posnya masing-masing.

"Kami sudah diperintahkan oleh komandan masing-masing, setelah Ashar harus pulang ke posnya masing-masing. Jadi saya harus pulang ke Balai Muhammadiyah," katanya.

Namun nahas, saat hendak pulang ada anggota CPM dan POL AU ( Polisi Angkatan Udara) yang menyusup ke rombongan pendemo. Mereka meminta para peserta demo untuk ke balai kota. Melihat keduanya berpakaian resmi, Usman dan para pendemo lainnya menuruti perintah dan menuju balai kota Solo, yang berjarak 400 meter.

"Ya sudah kita berbondong-bondong ke sana. Tapi belum sampai ke balai kota kita sudah disikat oleh militer. Ditembaki dari beteng itu. Setelah melihat peluru seperti kembang api, saya sembunyi. Saya bersama GPM (Gerakan Pemuda Marheinis) sembunyi. Makin malam makin kelihatan peluru itu. Kira-kira jam setengah tujuh (18.30) sudah agak reda itu, kami pulang. Rumah kami di Kusumoyudan depan Sahid Raya," tuturnya.

Namun sebelum pulang, lanjut Usman, salah satu keponakannya yang tinggal di Kampung Batangan, Pasarkliwon yang nekat melintas di lokasi, menjadi korban pembunuhan. Keponakan Usman yang masih berusia 13 tahun dan henda pulang dari rumahnya ke Batangan dicegat.

"Ternyata yang dibunuh di Kedung Kopi itu ada 22 orang, ditambah 1 orang dari Wonogiri. Kalau yang keponakan saya itu ditusuk di leher sampai tembus, hancur badannya," katanya.

Selang dua hari kemudian, giliran masyarakat yang melakukan operasi penangkapan terhadap para anggota PKI. Apalagi saat itu, RPKAD juga telah kembali ke Solo. Para tokoh komunis tak berdaya, tak berani lagi keluar rumah dan Kota Solo kembali dikuasai warga.

"Kalau ada yang mengatakan di Kedung Kopi itu PKI dibunuh, itu pemutarbalikan fakta. Justru PKI yang melakukan pembunuhan di sana. Karena di sana itu aman, masih seperti hutan. Mayatnya ya sudah dibiarkan di sana," jelasnya lagi.

Jembatan Bacem

Dalam peristiwa kekejaman PKI di Solo, Jembatan Bacem yang berada di atas aliran Sungai Besar (Bengawan) Solo, Kecamatan Grogol, Kabupaten Sukoharjo juga turut menjadi saksi bisu. Jembatan yang sudah dibangun ulang itu, dikenal sebagai tempat jagal para tahanan terduga anggota PKI atau organisasi yang berafiliasi dengan partai itu.

Sulit memang mencari saksi hidup peristiwa tersebut. Namun sejumlah warga di desa sekitar memang pernah mendengar cerita dari orang tua mereka. Sejumlah warga bahkan menceritakan adanya kisah mistis di lokasi itu.

"Sekarang jembatanya kan tinggal pondasi. Tidak bisa dirobohkan, tidak ada yang berani. Saat kejadian itu saya masih sekolah dasar," ucap Suko Haryono (59) warga Desa Telukan.

Dari cerita kedua orang tuanya, dikatakan memang lokasi tersebut menjadi tempat eksekusi anggota PKI. Mayat para penghianat bangsa tersebut kemudian dibuang ke aliran sungai.

Usman juga membenarkan jika Jembatan Bacem menjadi lokasi pembunuhan anggota PKI. Menurutnya, tidak hanya Jembatan Bacem, namun juga di Jembatan Jurug yang juga di atas aliran Sungai Bengawan Solo.

"Kalau Bacem itu dia (PKI) yang dibunuh oleh kita. Jembatan Bacem ada, Jurug juga ada," katanya lagi.

Usman menilai, konflik horisontal yang terjadi antara masyarakat dan PKI, bermula dari peristiwa pembunuhan di Solo. Masyarakat ingin melakukan balas dendam terhadap kekejaman PKI.

Kamp tahanan politik Sasono Mulyo

Tempat lain yang menjadi saksi tentang peristiwa kekejaman PKI di Solo adalah gedung Sasono Mulyo. Konon setiap malam ada tahanan yang diambil dari kamp penahanan di kompleks Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Dari lokasi ini, tercatat 71 orang hilang setelah diambil tentara pada malam hari.

Sasono Mulyo terletak di dalam wilayah Keraton Surakarta, tepatnya di sebelah barat Pintu Gapit, sebelah utara Bangsal Kemandungan atau berseberangan dengan Sasono Putra, tempat tinggal raja Paku Buwono XIII, yang berkuasa saat ini. Tempat ini merupakan kediaman resmi putra mahkota.

Kompleks Sasono Mulyo terdiri atas bangunan induk yang ditinggali oleh putera mahkota, dan bangunan tambahan di sepanjang sisi timurnya yang merupakan tempat para abdi dalem (pelayan) yang mengurus kebutuhan sehari-hari putera mahkota. Di bagian depan bangunan induk terdapat pendopo(serambi) berukuran kurang lebih 37,5x25 meter persegi.

Pengageng Parentah Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Kanjeng Gusti Pangeran Haryo (KGPH) Dipokusumo atau akrab disapa Gusti Dipo membenarkan jika saat itu, Sasono Mulyo menjadi tempat penahanan anggota PKI.

"Sasono Mulyo memang dipakai untuk menahan orang-orang yang diduga terlibat kegiatan G30S-PKI tersebut. Nah yang dipakai Sasono Mulyo adalah bangunan pendopo," terang Gusti Dipo.

Namun seiring perkembangan zaman, di era Paku Buwono XII akan menikahkan anaknya, GKR Alit tahun 1971, tempat tersebut dikosongkan. Sasono Mulyo kemudian dijadikan tempat hajatan saat keluarga keraton mantu.

Kemudian, lanjut Gusti Dipo, tahun 1975 Sasono Mulyo digunakan untuk kegiatan PKJT atau Pusat Kesenian Jawa Tengah. Setelah itu muncul lagi kegiatan seni yang tergabung dalam ASKI atau Akademi Seni Karawitan Indonesia, yang selanjutnya menjadi STSI dan sekarang menjadi ISI (Institut Seni Indonesia).

"Sak meniko kosong (sekarang kosong)," lanjut Dipokusumo.

Namun demikian, jelas Gusti Dipo, ada beberapa kegiatan resmi yang menggunakan Sasono Mulyo. Di antaranya acara pernikahan putra-putri atau keluarga keraton, kemudian jika ada keluarga keraton yang meninggal dan untuk kegiatan menyambut bulan Suro.

"Menawi Suro, ingkang sampun kelampahan meniko kangge ringgit wacucal kangge penutupan tahun. Kadang nggih kagem sarasehan utawi pertemuan-pertemuan sanesipun nate. (Kalau bulan Suro, yang sudah pernah dipakai untuk pentas wayang kulit, untuk penutupan tahun. Kadang juga untuk sarasehan dan pertemuan lainnya)," terangnya. [cob]

Kisah Pertempuran di Hari Raya Idul Fitri, TNI Tembak Mati Pemimpin DI/TII

Kisah Pertempuran di Hari Raya Idul Fitri, TNI Tembak Mati Pemimpin DI/TII


Tepat pada 3 Februari 1965, pasukan TNI melakukan pengepungan di sebuah hutan Sulawesi dekat Sungai Lasolo. Perintah operasi penyergapan ini dilakukan oleh Asisten Operasi dan Asisten Intelijen di bawah pimpinan Kolonel Inf Solichin GP dan diberi nama Operasi Kilat. Targetnya menangkap hidup atau mati Kahar Muzakar, Imam Republik Persatuan Islam Indonesia, bagian dari Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) yang sudah memberontak 14 tahun melawan pemerintah.

Pengepungan dilakukan dengan taktik tapal kuda, langkah ini dilakukan untuk mencegah Kahar Muzakkar kabur. Dalam rencana ini, sejumlah unit pasukan dari Yonif 330/Para Kujang I pimpinan Mayor Yogie S Memed digerakkan menuju lokasi, 4 kompi Kujang I ditugasi menyisir Sektor B dari selatan dan tenggara. Sedang Peleton 1 Kompi D pimpinan Peltu Umar Sumarsana berada di Sektor B.

Kehadiran Pasukan Kujang dari Siliwangi ini memang diminta khusus oleh Panglima Kodam Hassanudin Kolonel M Jusuf. Pasukan Siliwangi sebelumnya telah menangkap Kartosoewirjo, Imam Besar DI/TII di Jawa Barat dan mengakhiri pemberontakan selama belasan tahun itu. Sebagai Kepala Staf Operasi Kilat ditunjuk Kolonel Solichin GP, seorang perwira senior dari Siliwangi.

Kolonel Solichin GP menggunakan taktik yang sama dengan saat mengalahkan DI/TII di Jawa Barat. Dia yakin simpati rakyat bisa direbut karena kerusakan yang ditimbulkan Kahar Muzakkar sama dengan Kartosoewirdjo di Jawa Barat. Rakyat tak mendukung mereka lagi karena seringnya gerombolan ini melakukan aksi teror. Walau begitu tetap saja ada beberapa perubahan strategi di lapangan karena anak buah Kahar memiliki kemampuan tempur dan persenjataan yang lebih baik.

Namun satu hal yang membuat Pasukan Siliwangi bisa diterima oleh Rakyat Sulawesi adalah karena pembawaan alamiah mereka. Anggota pasukan ini dikenal taat salat berjamaah dan berkumpul dalam mushola bersama warga desa. Hal ini cocok dengan kebiasaan masyarakat setempat yang religius. Banyak warga yang sadar dan meninggalkan kelompok DI/TII.

1. Pasukan TNI Makan Daun
Merdeka.com - Sejak tahun 1964, perburuan pada Kahar Muzakkar makin gencar. Namun faktor sulitnya menembus belantara hutan Sulawesi menjadi penghalang pasukan TNI menangkap Kahar. Walau begitu posisinya makin lemah karena banyak pengikut yang menyerah. Termasuk istri Kahar yang bernama Andi Rawe.

Pada Januari 1965, tim RPKAD menangkap seorang perwira kepercayaan Kahar. Dia mengungkap Kahar berada di sekitar Sungai Lasolo.

Mayor Yogie S Memet memerintahkan pasukannya bergerak. Salah satunya adalah Peleton 1 Kompi D pimpinan Peltu Umar yang mulai bergerak sejak 27 Januari 1965. Pasukan ini hanya dibekali logistik untuk empat hari. Seharusnya sudah kembali ke markas mereka tanggal 31 Januari. Namun Peltu Umar menemukan petunjuk baru, dan memutuskan terus bergerak mengejar Kahar. Karena logistik sudah habis, pasukan terpaksa makan dedaunan untuk bertahan hidup.

Upaya mereka menyusuri Sungai Lasolo tidak sia-sia. Tanggal 1 Februari 1965, mereka menangkap menteri kesehatan RPII dan sejumlah simpatisan Kahar Muzakkar. Pasukan makin yakin posisi Kahar sudah dekat.

Tanggal 2 Februari, pasukan Siliwangi melihat seorang menggunakan rakit dengan membawa senjata. Pengintaian membawa mereka ke sebuah tempat dengan beberapa bivak atau tempat berlindung di tengah hutan. Namun Peltu Umar meminta anak buahnya tak bergerak.

Dia kemudian mengoordinasikan pasukannya untuk mengepung dan menutup jalur pelarian. Umar yakin target mereka adalah Kahar Muzakkar setelah mendengar sayup-sayup lagu 'Kenang-kenangan' yang merupakan lagu kegemaran Kahar.
Kisah Pertempuran di Hari Raya Idul Fitri, TNI Tembak Mati Pemimpin DI/TII
2. Pertempuran di Hari Raya
Merdeka.com - Tanggal 3 Februari 1965 dini hari, tepat di hari Raya Idul Fitri, Peltu Umar memerintahkan 30 prajuritnya menyeberang sungai. Sementara empat orang prajurit berjaga di seberang sungai mencegah kahar melarikan diri.

Saat matahari mulai terbit, Kopral Satu Ili Sadeli mendengar suara radio di balik rimbunan pepohonan, dia lantas mendekati sumber suara tersebut. Dari informasi saat itu, Kahar melarang warga yang berada di daerah kekuasaannya memiliki sebuah radio, kecuali dirinya sendiri. Suara tersebut ternyata berasal dari sebuah rumah.

Saat mendekati rumah itu, Sadeli memergoki seseorang yang sedang keluar dari rumah sembari membawa tas. Saat berpapasan, pria tersebut mencoba kabur, secara reflek Sadeli melepaskan tiga tembakan dari senapan Thompsonnya dan lelaki itupun tersungkur di tanah.

Saat diperiksa, laki-laki ini ternyata memakai jam tangan bermerek Titus, terselip pulpen Pelican di balik kantong bajunya. Selain Titus dan Pelican, Sadeli menemukan uang tunai sebesar Rp 65.000, jumlah yang amat besar saat itu. Dia mulai sadar, laki-laki ini adalah Kahar Muzakkar, buronan paling dicari oleh pemerintah.

Segera setelah memeriksanya, Sadeli segera melaporkan hasilnya ke pusat komando. Mayat Kahar lantas dibawa helikopter menuju Makassar untuk identifikasi. Untuk memastikannya, TNI AD hanya mengizinkan istri dan kedua anaknya untuk melihat mayatnya secara langsung, dan kepastian ini didapat dari putranya Abdullah.

3. Dikenali dari Gigi Emas dan Celana Dalam
Merdeka.com - Panglima Kodam Hasanuddin Kolonel M Jusuf mempersilakan warga yang ingin melihat jenazah Kahar Muzakkar. Dia memastikan yang tewas benar-benar adalah Kahar. Selain wajah, Kahar bisa dikenali lewat tiga ciri penting.

Pertama adalah tahi lalat, lalu gigi emas dan celana dalam yang dibordir dengan inisial KM. Dari informasi yang didapat Jusuf, Kahar tak mau memakai sembarang celana dalam kecuali yang dibordir oleh istri keempatnya.

Setelah warga melihat, Jenazah Kahar langsung dikubur di lokasi yang sangat dirahasiakan, tak seorang pun yang tahu lokasinya, termasuk keluarganya sendiri. M Jusuf tak pernah mau menceritakan di mana jenazah Kahar dimakamkan. Rahasia ini terkubur saat M Jusuf yang kelak menjadi Panglima TNI meninggal tahun 2004.

Kronologi Peristiwa Berdarah G30S/PKI Menurut Saksi Hidup

Kronologi Peristiwa Berdarah G30S/PKI Menurut Saksi Hidup, Selamat Karena Tertidur di Bawah Truk


Sukitman adalah polisi yang selamat dari peristiwa kejam G30S/PKI. Ia menuturkan apa yang terjadi di hari para jenderal diculik.

Melansir dari Intisari edisi September 1992, saat itu Sukitman tengah berjaga di Seksi Vm Kebayoran Baru (sekarang Kores 704) yang berlokasi di Wisma AURI di Jalan Iskandarsyah, Jakarta.

Jam menunjukkan pukul 03.00, Sukitman yang waktu itu berpangkat Agen Polisi Dua tengah melaksanakan tugas bersama rekannya yang berpangkat sama, Sutarso.

Sukitman mengatakan saat itu ia mendengar bunyi rentetan tembakan yang asalnya tidak jauh dari posnya.

"Waktu itu polisi naik sepeda. Sedangkan untuk melakukan patroli, kadang-kadang kami cukup dengan berjalan kaki saja, karena radius yang harus dikuasai adalah sekitar 200 meter," katanya.

Sukitman bergegas mengendarai sepedanya dengan cara melawan arah.

Sementara rekannya tetap berjaga. Sukitman tak menduga suara tembakan itu adalah awal dari penculikan para jenderal. Ia mengira telah terjadi perampokan.

Setelah mencari sumber suara, Sukitman menyadari tembakan itu berasal dari rumah Jenderal DI Panjaitan. Menurutnya, rumah tersebut sudah dikepung oleh pasukan.

Sukitman tidak mengetahui apa yang sedang terjadi, tiba-tiba saja seorang tentara berseragam loreng berbaret merah berusaha menghentikannya.

"Turun! Lempar senjata dan angkat tangan!"

Sukitman yang saat itu masih berusia 22 tahun mengaku kaget dan lemas. Ia langsung menyuruti apa yang diperintahkan. Kemudian, Sukitman diseret. Tangannya terikat dan matanya tertutup.

Ia dilemparkan ke dalam truk. Menurutnya, ia ditempatkan di samping sopir. Walapun dalam keadaan mata tertutup, Sukitman menajamkan instingnya. Ia ingin tahu kemana pasukan itu membawanya pergi.
Kronologi Peristiwa Berdarah G30S/PKI Menurut Saksi Hidup, Selamat Karena Tertidur di Bawah Truk
Namun, ia mulai kehilangan orientasi setelah mobil berbelok kanan dari arah Cawang. "Pokoknya, saya pasrah kepada Tuhan sambil berdoa," katanya. Kendaraan yang ditumpangi Sukitman berhenti.

Ia diturunkan dan tutup matanya dibuka. Sukitman belum terbiasa dengan keadaan yang serba terang benderang. Ia mendengar seseorang mengatakan ada yang sudah mati.

"Yani wis dipateni," ucapan itulah yang didengar Sukitman.

Setelah tentara yang menyandera Sukitman tahu bahwa ia adalah polisi, Sukitman dibawa ke sebuah tenda. Di tenda itu, tentara tersebut melapor kepada atasannya, "Pengawal Jenderal Panjaitan ditawan."

Sukitman melihat ada orang bersimbah darah dalam posisi telentang. Ada juga yang duduk di kursi dalam kondisi sama seperti orang telentang. Kemudian, Sukitman ditawan di depan rumah.

Hari semakin terang, Sukitman melihat dengan jelas sekelompok orang mengerumuni sumur yang jaraknya 10 meter dari tempatnya disandera.

"Ganyang kabir, ganyang kabir!," teriak orang yang berkerumun itu.

Tubuh manusia dilemparkan ke dalam sumur yang kemudian dihujani peluru.

Sukitman sempat melihat seorang tawanan dalam keadaan masih hidup dengan pangkat bintang dua di pundaknya, mampir sejenak di tempatnya disandera.

"Setelah tutup matanya dibuka dan ikatannya dibebaskan, di bawah todongan senjata, sandera itu dipaksa untuk menandatangani sesuatu. Tapi kelihatannya ia menolak dan memberontak. Orang itu diikat kembali, matanya ditutup lagi, dan diseret dan langsung dilemparkan ke dalam sumur yang dikelilingi manusia haus darah itu dalam posisi kepala di bawah," kenangnya.

Setelah aksi kejam itu berhenti, sumur tersebut diisi sampah dan ditancapkan pohon pisang. Orang yang menyandera Sukitman merasa ia bukanlah musuh. Ia dipanggil untuk menghadap Lettu Dul Arief yang menanyakan di mana senjata Sukitman.

Akhirnya Sukitman menjelaskan apa yang terjadi sebelum diseret ke tempat tersebut. Senjata Sukitman berhasil ditemukan walaupun dalam keadaan patah.

Sukitman dibawa ke Gedung Penas (daerah Bypass, sekarang Jalan Jenderal A Yani). Hari berganti malam, Sukitman yang masih dalam pengawasan malah diajak membawa nasi.

"Ke mana?," tanya Sukitman.

"Ke lubang Buaya, tempat para jenderal dibunuh," jawab Kopral Iskak, orang yang mengajaknya tersebut.

"Pada waktu itulah saya baru tahu bahwa yang dikatakan 'Ganyang kabir, ganyang kabir!' itu para jenderal," ungkap Sukitman.

Jalan yang diambil melewati Cililitan, Kramat Jati, Pasar Hek bukan sesuatu yang asing bagi Sukitman, karena dulu ia pernah mengikuti latihan di daerah itu.

Selesai mengambil nasi, mereka segera kembali ke Gedung Penas untuk membagikan nasi kepada pasukan.

Merasa lelah, Sukitman akhirnya tertidur. Hari telah berganti, namun peluang bagi Sukitman untuk melarikan diri sangatlah kecil. Kira-kira pukul 14.00 WIB, Sukitman merasa kepalanya pusing.

Ia memutuskan masuk ke kolong truk untuk berbaring. Sukitman menggunakan helm untuk mengganjal kepala, senjatanya yang patah ia letakan di dekatnya.

Kepalanya yang pusing diikat dengan scraf yang sebelumnya digunakan oleh pasukan yang menyanderanya. Saat Sukitman tertidur ia mendengar bunyi tembakan dari berbagai arah.

"Meskipun saya mendengar bunyi tembakan gencar, entah mengapa mata saya tidak mau diajak kompromi untuk melek," katanya.

Ketika terbangun sore hari skeitar pukul 16.00 WIB, Sukitman tidak bisa menemukan pasukan yang sebelumnya berjumlah banyak.

Ia hanya sendirian di tempat tersebut padahal truk masih berjejer. Setelah itu, ia bertemu dengan pasukan yang tengah mencari jejak anggota yang terlibat G30S/PKI.

Sukitman dibawa ke markas Cakrabirawa. Setelah bertemu dengan sejumlah orang, ia akhirnya dibawa ke jalan Merdeka untuk menghadap Panglima Kostrad Mayjen Soeharto.



Artikel ini telah tayang di tribunjabar.id dengan judul Kronologi Peristiwa Berdarah G30S/PKI Menurut Saksi Hidup, Selamat Karena Tertidur di Bawah Truk, http://jabar.tribunnews.com/2018/08/26/kronologi-peristiwa-berdarah-g30spki-menurut-saksi-hidup-selamat-karena-tertidur-di-bawah-truk.'\

Penulis: Fidya Alifa Puspafirdausi
Editor: Ravianto

Serbuan Dadakan Kopassus Buat Anggota Separatis Papua Lari Kelimpungan Sebelum Tewas Disambar Peluru!

Serbuan Dadakan Kopassus Buat Anggota Separatis Papua Lari Kelimpungan Sebelum Tewas Disambar Peluru!


Akhir tahun 1966, Irian Barat (Papua) membara karena pemberontakan terbesar terjadi di sana. Pemberontakan terbesar itu dipimpin oleh Lodewijk Mandatjan yang bermarkas di Kepala Burung Irian Barat.

Diklaim sebagai pemberontakan terbesar lantaran Mandatjan berhasil memobilisasi 14 ribu warga suku Arfak yang menjadi pengikutnya untuk masuk hutan. Dari hutan Mandatjan bersama anggotanya melakukan serangkaian kegiatan penghadangan, penyerangan dan pengacauan keamanan lainnya di kecamatan Warmare dan Ransiki.

Namun perlu diketahui jika Lodewijk Mandatjan bukanlah anggota Organisasi Papua Merdeka (OPM). Mandatjan dan suku Arfak yang dipimpinnya memberontak karena buruknya keadaan ekonomi di Irian Barat saat itu.

Baca: Gugur Ditembak KKB Papua, Serda Yusdin Posting Foto Pacar Tunggulah dengan Sabar Walau Tanpa Kabar Lodewijk Mandatjan sendiri ialah sebenarnya ialah seorang patriot pejuang Trikora saat Indonesia berusaha merebut Irian Barat dari Belanda.

Usaha-usaha Mandatjan dalam melakukan pemberontakan sangat meresahkan. Hingga pada awal 1967 pos Komando Rayon Militer (Koramil) di Warmare Sektor-B diserang oleh puluhan separatis Mandatjan.
Serbuan Dadakan Kopassus Buat Anggota Separatis Papua Lari Kelimpungan Sebelum Tewas Disambar Peluru!
Serbuan Dadakan Kopassus Buat Anggota Separatis Papua Lari Kelimpungan Sebelum Tewas Disambar Peluru!

Sialnya, Koramil hanya dipertahankan oleh 6 orang prajurit TNI. Meski begitu keenam anggota TNI itu tetap melawan dengan gigih. Kontak tembak sengit terjadi, selama seminggu kelompok separatis mengepung Koramil.

Keenam anggota TNI itu mulai menghadapi masalah menipisnya amunisi, kekurangan logistik, dan kurang tidur. Bahkan satu orang anggota TNI gugur hingga jasadnya terpaksa dikuburkan dalam markas lantaran kepungan rapat musuh.

 Irian Barat pimpinan Sintong Panjaitan yang ditugaskan di sana langsung disuruh menghadap Danrem 171/Manokwari Kolonel K.Sutrisno. Sintong yang baru saja menginjakkan kaki di bumi Cenderawasih langsung diperintahkan untuk membebaskan Koramil di Warmare.

Tanpa menunggu lagi, tim RPKAD yang berkekuatan 50 personil langsung berangkat menuju lokasi menggunakan dua buah truk. Petang hari tim RPKAD tiba di lokasi dan Serbuan mendadak tim RPKAD ini amat mengagetkan separatis. Mereka tak sempat bereaksi melawan dan hanya bisa lari kelimpungan berusaha menyelamatkan diri.

Tak ayal mereka menjadi 'sitting duck' alias sasaran empuk tim RPKAD yang menyambar nyawa musuhnya dengan peluru panas.

Banyak anggota separatis yang tewas akibat 'ulah' pasukan Komando Indonesia itu.

Sementara di pihak RPKAD tak ada satu anggota pun terbunuh.

Mengenal 4 Tokoh penting yang bergerak cepat Tumpas PKI

Mengenal 4 Tokoh penting yang bergerak cepat Tumpas PKI


Gerakan PKI yang telah menculik para jenderal dan ingin mengkudeta pada akhirnya bisa ditumpas. Para pemimpin gerakan itu ditangkap atau ditembak mati. Ada beberapa tokoh penting di balik penumpasan PKI.


Tokoh-tokoh ini dengan cepat melumpuhkan PKI yang menghabisi banyak orang. Berikut tokoh-tokoh penting yang cepat lumpuhkan PKI:

1. Sarwo Edhie
Merdeka.com - Komandan RPKAD (Resimen Para Komando Angkatan Darat), Sarwo Edhie ditunjuk untuk memimpin penumpasan PKI. Tak berpikir lama, Sarwo Edhie menyatakan kesiapannya menumpas para PKI. Terlebih lagi salah satu korban Gerakan 30 September 1965 teman dan pelindungnya di Angkatan Darat yaitu Jenderal Ahmad Yani.

Sarwo Edhie diberi tugas melenyapkan anggota PKI di lahan subur komunis di Jawa Tengah. Pada tahun 1989, sebelum kematiannya, Sarwo Edhie memberi pengakuan kepada anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) bahwa 3 juta orang tewas dalam pertumpahan darah ini.

Baca Juga:
Ketika Anggota TNI Gugur Dicangkul Underbouw PKI!
(Sejarah) inilah Rupa Tu-16 TNI AU, Pesawat Pengebom Paling Ditakuti Belanda!

2. Soeharto
Merdeka.com - Jenderal Soeharto, Panglima Kostrad (Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat) menjadi tokoh penting dalam penumpasan PKI. Soeharto menggunakan empat tahap untuk menghabisi para PKI.

Pertama, diusahakan untuk menetralisir pasukan-pasukan yang masih mengambil stelling di sekitar Medan Merdeka. Kedua, Soeharto memerintahkan untuk menduduki kembali gedung Pusat Telekomunikasi dan RRI.

Ketiga, pada pukul 20.00 WIB Soeharto berbicara di depan radio, menjelaskan kepada seluruh Rakyat Indonesia apa yang telah terjadi dan menerangkan tindakan-tindakan apa yang telah diambil. Keempat, Soeharto mulai memberikan pukulan maut kepada komplotan G30S dengan merebut PAU Halim. Tugas itu dipercayakan kepada RPKAD dengan bantuan Yon 328 Para Kudjang/Siliwangi.
Mengenal 4 Tokoh penting yang bergerak cepat Tumpas PKI
3. AH Nasution
Merdeka.com - Kolonel AH Nasution memegang kendali atas penumpasan PKI. Saat itu dia menjabat sebagai Kepala Staf Operasi Markas Besar Angkatan Perang RI. Kepada Presiden Soekarno, dia memaparkan rencana operasi penumpasan pemberontakan PKI di Madiun.

Keseluruhan operasi penumpasan pemberontakan PKI Madiun itu hanya diberi waktu dua minggu. Prajurit tuntas mengemban tugas, hingga tertangkapnya semua pentolan PKI.

Baca Juga:
Pemberontakan PKI Madiun 1948 Dan Tokoh Tokohnya
Momen Mendebarkan ketika TNI Lindungi Markas PBB Dari Serangan Tank Prajurit Kongo 

4. M Jasin
Merdeka.com - M Jasin salah satu orang penting dalam penumpasan PKI. Pada tahun 1965, M Jasin sebagai Panglima Kodam Brawijaya menggelar operasi militer untuk menumpas PKI.

Juni 1968, Operasi Trisula mulai digelar. Kolonel Wintarmin diangkat sebagai komandan. Tentara menyisir kawasan hutan Blitar Selatan untuk mencari pemberontak. Banyak anggota PKI yang tertangkap. Operasi Trisula mencatat 33 tokoh PKI ditembak mati. Sementara 850 tokoh PKI bisa ditangkap selama tiga bulan.

Kata-Kata Terakhir Ade Irma Suryani Sebelum Tewas Pada Tragedi G30S/PKI

Kata-Kata Terakhir Ade Irma Suryani Sebelum Tewas Pada Tragedi G30S/PKI

Ada nama Ade Irma Suryani yang gugur selain para pahlawan revolusioner yang dikubur di Lubang Buaya pada tragedi G30S PKI tahun 1965 silam. Ade Irma Suryani adalah gadis kecil anak dari Jendral AH Nasution, tokoh yang menjadi incaran pada tragedi tersebut.

Gadis kecil itu tewas bersimbah darah dalam pelukan ibunya, Johanna Sunarti Nasution.

Dikutip dari Intisari Online(27/09/2018), anak sulung AH Nasution, Hendrianti Sahara Nasution menceritakan peristiwa kejam yang merenggut nyawa adiknya itu. Dalam wawancara yang disiarkan oleh Tv One, Hendrianti mengatakan sang adik tewas tertembak dari jarak dekat.

Hendrianti menggambarkan peristiwa berdarah itu di tempat kejadian, dikediaman AH Nasution yang telah dijadikan museum, di Menteng, Jakarta Pusat. Pada pukul 3.30 WIB dini hari, Jenderal AH Nasution dan Johanna terbangun dari tidur.

"Pukul 3.30 pagi, ibu saya dan ayah terbangun gara-gara nyamuk.

Terdengar pintu digerebek, ibu saya melihat pasukan Cakrabirawa masuk," kata Hendrianti. Menyadari hal tersebut, istri AH Nasution langsung menutup pintu.
Kata-Kata Terakhir Ade Irma Suryani Sebelum Tewas Pada Tragedi G30S/PKI
"Itu yang akan membunuh kamu sudah datang," kata Johanna kepada suaminya. Kemudian, pasukan Cakrabirawa menembaki pintu tersebut. "Lalu bapak (AH Nasution) bangun dan bilang biar saya hadapi, tapi ibu bilang jangan," kata Hendrianti.

Saat penyerbuan terjadi, Ade Irma Suryani bersama ayah dan ibunya. Johanna berusaha melindungi AH Nasution, ia menyerahkan Ade Irma Suryani kepada adik iparnya.

"Ibu bilang ke adik bapak, tolong pegang Irma, karena dia harus menyelamatkan bapak.

Sementara ibu beliau nangis lihat ayah ditembak," carita Hendrianti. Adik AH Nasution menuruti permintaan Johanna, ia menggendong Ade Irma Suryani. Namun, ia panik dan tak sengaja membuka pintu yang diberondong oleh pasukan Cakrabirawa.

"Langsung, (pasukan Cakrabirawa) menembak adik saya. Jaraknya segini (sambil menunjuk diorama tempat ditembaknya Ade Irma dalam jarak dekat)," katanya.

Peluru tersebut akhirnya menembus badan Ade Irma Suryani. "Adik saya ditembak, peluru masuk ke tangan tante saya, dan menembus ke badan adik saya," ujarnya. Setelah Ade Irma Suryani tertembak, pintu ditutup kembali oleh Johanna Nasution.

Ia langsung menggendong tubuh anaknya yang bersimbah darah, sambil mengantar AH Nasution utnuk menyelamatkan diri. Bahkan Hendrianti mengatkan darah versi asli lebih banyak dibandingkan yang ada di diorama.

Ternyata ada sekitar tiga peluru yang bersarang di punggung kecil Ade Irma Suryani. Mengutip dari halaman Facebook Museum of Jenderal Besar Dr AH Nasution, Hendrianti menjelaskan saat peritiwa itu terjadi usianya masih 13 tahun.

Saat rumahnya dikepung Cakrabirawa, ia tidur di kamar seberang kamar orangtuanya. Ia terbangun saat mendengar suara tembakan. Putri sulung AH nasution itu berusaha menyelamatkan diri dengan cara melompat dari jendela yang tingginya 2 meter.

"Sampai tulang kaki saya patah yang saya rasakan sakitnya sampai sekarang, paha kaki saya yang kanan penuh dengan pen penyambung tulang," ucapnya.

Sambil menahan rasa sakit, ia mencari ajudan. Ia kemudian bersembunyi di kamar ajudan dan diberi tahu keselamatan keluarganya sedang di ujung tanduk.

"Tak berapa lama terjadi ribut-ribut di ruang jaga dan ajudan pak NAs Lettu Czi Pierre Tendean diculik. Sampai pagi saya bersembunyi," katanya.

Setelah hari menjelang pagi, Johanna mencari Hendrianti sambil menggendong Ade Irma yang terluka. AH Nasution menyelamatkan diri dengan cara melompat pagar ke Kedubes Irak yang ada di sebelah.

Ia bersembunyi di belakang tong untuk menyelamarkan diri dari penculikan dan pembunuhan. Ade Irma dibawa ke RSPAD untuk diberikan pertolongan. Gadis kecil itu harus menjalani operasi beberapa kali.

Hendrianti yang tak kuasa melihat adiknya yang bersimbah darah hanya bisa menangis. "Adik saya bilang, 'Kakak jangan nangis, adik sehat'," katanya.

Selain menenangkan Hendrianti, Ade Irma juga bertanya kepada sang ibu. "Adik tanya ke ibu saya, 'Kenapa ayah mau dibunuh mama?" Kalimat tersebut diucapkan sebelum Ade Irma Suryani meninggal dunia.

Ia menghembuskan napas terakhirnya setelah beberapa hari dirawat di rumah sakit.

"Tanggal 6 Oktober adik saya dipanggil Allah. Saya sebagai manusia sudah memaafkan mereka tapi peristiwa ini tidak boleh dilupakan," ucapnya.

Pemberontakan PKI Madiun 1948 Dan Tokoh Tokohnya

Pemberontakan PKI Madiun 1948 Dan Tokoh Tokohnya



Harian Sejarah - Selain Partai Nasional Indonesia (PNI), PKI merupakan partai politik pertama yang didirikan sesudah proklamasi. Meski demikian, PKI bukanlah partai baru, karena telah ada sejak jaman pergerakan nasional sebelum dibekukan oleh pemerintah Hindia Belanda akibat memberontak pada tahun 1926.
Simpatisan Komunis diamankan Tentara pasca Peristiwa Madiun 1948. Foto: Pinterest
Simpatisan Komunis diamankan Tentara pasca Peristiwa Madiun 1948. Foto: Pinterest


Sejak merdeka sampai awal tahun 1948, PKI masih bersikap mendukung pemerintah, yang kebetulan memang dikuasai oleh golongan kiri.

Namun ketika golongan kiri terlempar dari pemerintahan, PKI menjadi partai oposisi dan bergabung dengan partai serta organisasi kiri lainnya dalam Front Demokrasi Rakyat (FDR) yang didirikan Amir Syarifuddin pada bulan Februari 1948. Pada awal September 1948 pimpinan PKI dipegang Muso. Ia membawa PKI ke dalam pemberontakan bersenjata yang dicetuskan di Madiun pada tanggal 18 September 1948.


Mengapa PKI memberontak? Alasan utamanya tentu bersifat ideologis, dimana mereka memiliki cita-cita ingin menjadikan Indonesia sebagai negara komunis. Berbagai upaya dilakukan oleh PKI untuk meraih kekuasaan. Di bawah pimpinan Musso, PKI berhasil menarik partai dan organisasi kiri dalam FDR bergabung ke dalam PKI.

Baca Juga:
Jenderal Amerika Kaget saat Masuk Markas Marinir Cilandak, 'Sambutan' Ekstrem Peluru Tajam
Presiden Pakistan : Kalau tidak ada prajurit Indonesia mungkin Pakistan sudah tidak ada


Partai ini lalu mendorong dilakukannya berbagai demonstrasi dan pemogokan kaum buruh dan petani. Sebagian kekuatan-kekuatan bersenjata juga berhasil masuk dalam pengaruh mereka. Muso juga kerap mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang mengecam pemerintah dan membahayakan strategi diplomasi Indonesia melawan Belanda yang ditengahi Amerika Serikat (AS). Pernyataan Muso lebih menunjukkan keberpihakannya pada Uni Sovyet yang komunis. Padahal saat itu AS dan Uni Sovyet tengah mengalami Perang Dingin.

Muso dalang Peristiwa Madiun 1948. Foto: Pinterest
Muso dalang Peristiwa Madiun 1948. Foto: Pinterest
Pemerintah Indonesia  telah  melakukan upaya-upaya diplomasi dengan Muso,  bahkan sampai mengikutsertakan tokoh-tokoh kiri yang lain, yaitu Tan Malaka, untuk meredam gerak ofensif PKI Muso. Namun kondisi politik sudah terlampau panas, sehingga pada pertengahan September 1948, pertempuran antara kekuatan-kekuatan bersenjata yang memihak PKI dengan TNI  mulai meletus.

See Also:
Peristiwa Madiun 1948, Sejarah Kebiadaban PKI Terhadap Ulama
Latar Belakang Pemberontakan PKI Madiun 1948 Beserta Sejarahnya

PKI dan kelompok pendukungnya kemudian memusatkan diri di Madiun. Muso pun kemudian pada tanggal 18 September 1948 memproklamirkan Republik Soviet Indonesia.

Presiden Soekarno segera bereaksi, dan berpidato di RRI Yogjakarta :


“…Saudara-saudara ! camkan benar apa artinja itu : Negara Republik Indonesia jang kita tjintai, hendak direbut oleh PKI Muso. Kemarin pagi PKI Muso, mengadakan coup, mengadakan perampasan kekuasaan di Madiun dan mendirikan di sana suatu pemerintahan Sovyet, di bawah pimpinan Muso. Perampasan ini mereka pandang sebagai permulaan untuk merebut seluruh Pemerintahan Republik Indonesia.

…Saudara-saudara, camkanlah benar-benar apa artinja jang telah terdjadi itu. Negara Republik Indonesia hendak direbut oleh PKI Muso !

Rakjat jang kutjinta ! Atas nama perdjuangan untuk Indonesia Merdeka, aku berseru kepadamu : “Pada saat jang begini genting, dimana engkau dan kita sekalian mengalami percobaan jang sebesar-besarnja dalam menentukan nasib kita sendiri, bagimu adalah pilihan antara dua : ikut Muso dengan PKI-nja jang akan membawa bangkrutnja cita-cita Indonesia Merdeka, atau ikut Soekarno-Hatta, jang Insya Allah dengan bantuan Tuhan akan memimpin Negara Republik Indonesia jang merdeka, tidak didjadjah oleh negeri apa pun djuga.

…Buruh jang djudjur, tani jang djudjur, pemuda jang djudjur, rakyat jang djudjur,djanganlah memberikan bantuan kepada kaum pengatjau itu. Djangan tertarik siulan mereka ! …Dengarlah, betapa djahatnja rentjana mereka itu !

Baca Juga:
Bus Ugal-ugalan Ketemu Tentara Bermotor, Begini Jadinya!
Jenderal ini tak main golf & sederhana, tapi amat dicintai prajurit, siapakah ia ?

Di awal pemberontakan, pembunuhan terhadap pejabat pemerintah dan para pemimpin partai yang anti komunis terjadi. Kaum santri juga menjadi korban. Tetapi pasukan pemerintah yang dipelopori Divisi Siliwangi kemudian berhasil mendesak mundur pemberontak. Puncaknya adalah ketika Muso tewas tertembak.


Amir Sjarifuddin. Foto: Pinterest

Amir Syarifuddin juga tertangkap. Ia akhirnya dijatuhi hukuman mati. Tokoh-tokoh muda PKI seperti Aidit dan Lukman berhasil melarikan diri. Merekalah yang kelak di tahun 1965, berhasil menjadikan PKI kembali menjadi partai besar di Indonesia sebelum terjadinya peristiwa Gerakan 30 September 1965. Ribuan orang tewas dan ditangkap pemerintah akibat pemberontakan Madiun ini. PKI gagal mengambil alih kekuasaan.

Pertama, upaya membentuk tentara Indonesia yang lebih profesional menguat sejak pemberontakan tersebut. Berbagai laskar dan kekuatan bersenjata “liar” berhasil didemobilisasi (dibubarkan). Dari sisi perjuangan diplomasi, simpati AS sebagai penengah dalam konflik dan perundingan antara Indonesia dengan Belanda perlahan berubah menjadi dukungan terhadap Indonesia, meskipun hal ini tidak juga bisa dilepaskan dari strategi global AS dalam menghadapi ancaman komunisme.

Baca Juga:
Long March Siliwangi, Perjalanan Panjang Prajurit Divisi Siliwangi dari Yogyakarta ke Jawa Barat
Namanya Mendunia & Ditakuti, Siapa Sangka 5 Tentara Asing ini Pernah Dipermalukan Pasukan Khusus TNI

Konflik yang terjadi berdampak pula pada banyaknya korban yang timbul. Perpecahan bangsa Indonesia yang tampak dalam peristiwa ini juga dimanfaatkan oleh Belanda yang mengira Indonesia lemah, untuk kemudian melancarkan agresi militernya yang kedua pada Desember 1948.

Daftar Rujukan:

Poesponegoro, Marwati Djoened dan Nugroho Notosusanto, 1993, Sejarah Nasional Indonesia VI, Jakarta : Balai Pustaka.
Ricklefs, MC. 2010. Sejarah Indonesia Modern 1200-2004.  Jakarta : Serambi Ilmu Semesta

Latar Belakang Pemberontakan PKI Madiun 1948 Beserta Sejarahnya

Latar Belakang Pemberontakan PKI Madiun 1948 Beserta Sejarahnya


Semenjak Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945, perjuangan pemerolehan kemerdekaan Indonesia tidak berhenti begitu saja. Masih ada banyak perjuangan yang dilakukan oleh para pahlawan yang telah gugur mendahului kita untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Banyak tantangan yang dihadapi oleh para pendahulu kita dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Dalam mata pelajaran sejarah yang diajarkan di sekolah-sekolah, proses pemerolehan dan mempertahankan kemerdekaan tidak berjalan dengan mulus. Bangsa-bangsa yang pernah menjajah Indonesia masih tidak rela jika Indonesia memperoleh kemerdekaan.

Oleh karena itu, bangsa-bangsa tersebut masih melakukan intervensi di wilayah negara Indonesia baik melalui intervensi secara militer maupun intervensi secara politik. Selama masa perjuangan kemerdekaan Indonesia, Indonesia juga mendapatkan tantangan dari dalam negeri sendiri. Tantangan yang dihadapi oleh negara Indonesia adalah pemberontakan-pemberontakan yang terjadi di dalam negeri sebagai bentuk dari ketidakpuasan kelompok masyarakat kepada pemerintah Indonesia pada saat itu. Dari beberapa pemberontakan yang pernah terjadi di Indonesia, pemberontakan yang dilakukan oleh PKI di Madiun pada tahun 1948 adalah salah satu pemberontakan terbesar yang pernah terjadi di Indonesia. Melalui artikel ini, dibahas secara lebih lanjut mengenai latar belakang dan sejarah pemberontakan PKI Madiun pada tahun 1948.

Latar Belakang Terjadinya Pemberontakan

Terjadinya pemberontakan dalam PKI Madiun pada tahun 1948 merupakan dampak yang ditimbulkan dari adanya kejatuhan sistem pemerintahan dalam kabinet yang dipimpin oleh seorang tokoh yang bernama Amir Syarifuddin. Jatuhnya kabinet yang dipimpin oleh Amir Syarifuddin setelah perkembangan pergerakan kebangsaan Indonesia di masa radikal setelah tahun 1908 merupakan salah satu bentuk kegagalan pemerintah pada masa itu untuk mempersatukan Indonesia.

Masa Turunnya Kabinet

Perlu kita ketahui, sistem pemerintahan pada masa kabinet yang dipimpin oleh Amir Syarifuddin disebabkan oleh pemerintah pada masa kemerdekaan Indonesia dimana pada saat itu terjadi perkembangan wilayah Indonesia berdasarkan perjanjian Renville yang dilakukan oleh pemerintah Belanda dan pemerintah Indonesia. Perjanjian Renville yang disepakati oleh pihak Belanda dan Indonesia membuat kerugian yang sangat besar bagi pihak Indonesia dan menimbulkan kegagalan dalam berbagai aspek dan bidang sehingga dengan sangat terpaksa, sistem pemerintahan kabinet yang dipimpin oleh Arif Syarifuddin harus selesai atau dengan kata lain kabinet tersebut harus turun dari sistem pemerintahan yang ada. Berikut hal yang melatarbelakangi dari masa turunnya kabinet:

Turunnya kabinet yang dipimpin oleh Arif Syarifuddin sebagai akibat dari adanya perjanjian Renville memberikan dampak tersendiri bagi pribadi Arif Syarifuddin sendiri.

Diberhentikannya kabinet pimpinan Arif Syarifuddin yang kemudian digantikan dengan kabinet baru yaitu kabinet Hatta membuat Arif Syarifuddin merasa kecewa terhadap keputusan pemerintah pada saat itu yang dirasa sepihak tanpa adanya perundingan terlebih dahulu dengan kabinet Arif Syarifuddin.

Bagi pihak kabinet Amir Syarifuddin, keputusan sepihak yang dilakukan oleh pemerintah saat itu dirasa tidak sesuai dengan kondisi penduduk Indonesia.
Latar Belakang Pemberontakan PKI Madiun 1948 Beserta Sejarahnya
Kekecewaan yang timbul dari pihak kabinet Amir Syarifuddin berbuntut panjang. Amir Syarifuddin bersama dengan kelompok-kelompok masyarakat yang sepaham dan sepemikiran dengannya mengutarakan ketidak setujuan mereka terhadap pergantian kabinet yang dilakukan pemerintah karena dampak dari adanya perjanjian Renville yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia dengan pemerintah Belanda. (baca juga: Proses Interaksi Sosial)
Masa Mulai Pemberontakan Tahun 1928

Rasa kekecewaan yang dimiliki oleh Amir Syarifuddin bersama dengan kelompoknya menumbuhkan rasa ingin merebut kembali dudukannya dalam kabinet seperti sebelum kabinet Hatta naik menggantikan kabinet Amir Syarifuddin. Sebagai bentuk pemenuhan dari macam-macam kebutuhan manusia yaitu membentuk interaksi antar sesama manusia, Amir Syarifuddin kemudian membentuk sebuah perkumpulan atau suatu kelompok di dalam masyarakat Indonesia yang disebut dengan Front Demokrasi Rakyat (FDR). Front Demokrasi Rakyat ini dibentuk oleh Amir Syarifuddin pada 28 Juni 1948 sebagai upaya untuk merebut kembali kabinet pemerintahan dari kabinet yang sedang berjalan dan berkerja pada saat itu. FDR yang dibentuk oleh Amir Syarifuddin tidak hanya terdiri dari sekelompok masyarakat yang tergabung dalam FDR tetapi juga melibatkan beberapa partai yang ada di Indonesia seperti:


Partai Buruh Indonesia
Sarekat Buruh Perkebunan Republik Indonesia
Beberapa partai yang tergabung dalam Front Demokrasi Rakyat menjadi memperkuat aksi yang dilakukan oleh Amir Syarifuddin dan kelompoknya untuk merebut kekuasaan kabinet pada sistem pemerintahan yang sedang berjalan pada waktu itu. Selanjutnya, Amir Syarifuddin bersama-sama dengan Front Demokrasi Rakyat membentuk suatu organisasi yang anggotanya mayoritas terdiri atas kaum buruh dan kaum petani. Alasan Amir Syarifuddin mendekati kaum buruh dan kaum petani untuk melancarkan aksinya adalah kurangnya pendidikan dari kedua kaum tersebut yang menjadikan kedua kaum tersebut mudah diberikan doktrin-doktrin baru sehingga dapat mendukung aksi yang dilakukan oleh Amir Syarifuddin bersama dengan kelompoknya. Secara garis besar, kekecewaan yang dialami oleh Amir Syarifuddin beserta kelompoknya adalah alasan yang melatar belakangi terjadinya pemberontakan PKI Madiun pada tahun 1948.


Pemberontakan yang dilakukan oleh Arif Syarifuddin berserta kelompoknya yang selanjutnya disebut sebagai pemberontakan PKI Madiun merupakan bentuk kekecewaan yang dimiliki oleh Artif Syarifuddin bersama dengan kelompoknya kepada pemerintah saat itu. Dalam menjalankan aksinya, pemberontakan ini mempunyai beberapa tujuan, diantaranya:

1. Menggulingkan Pemerintahan

Tujuan utama pemberontakan yang dilakukan oleh Arif Syarifuddin berserta dengan Front Demokrasi Rakyat adalah menggulingkan pemerintahan pada saat itu. Sistem pemerintahan kabinet yang dipimpin oleh Hatta dirasa tidak sesuai dengan pemikiran dan pemahaman yang dimiliki oleh Arif Syarifuddin. Selain itu, rasa kekecewaan yang dimiliki oleh Arif Syarifuddin ketika kabinetnya diberhentikan dan digantikan oleh kabinet Hatta membuat Arif Syarifuddin ingin melakukan balas dendam dengan menggulingka pemerintahan yang ada sehingga Arif Syarifuddin bersama dengan kelompoknya dapat menduduki kabinet kembali.

Tujuan penggulingan pemerintahan yang akan dilakukan oleh Amir Syarifuddin mendapatkan dukungan dari Front Demokrasi Rakyat sehingga dalam aksinya, Amir Syarifuddin mendapatkan bantuan dari FDR ini. Tujuan penggulingan pemerintahan yang dilakukan oleh Amir Syarifuddin dan kelompoknya tentu saja bukan merupakan contoh hidup rukun yang terjadi baik di dalam masyarakat maupun di dalam kehidupan bernegara. (baca juga: Pengertian Mediasi)

2. Menggantikan Ideologi

Semenjak Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya dari penjajahan bangsa lain, Indonesia telah memiliki ideologi bangsa sebagai landasan hidup bangsa Indonesia dalam bertanah air dan berbangsa Indonesia. Ideologi tersebut adalah ideologi Pancasila yang sampai sekarang kita akui sebagai dasar negara kita Indonesia. Pada tahun 1948, Amir Syarifuddin bersama dengan kelompokknya mempunyai keinginan untuk mengganti ideologi negara yaitu Pancasila menjadi ideologi negara komunis.

Penggantian ini dikarenakan Amir Syarifuddin beserta kelompoknya merasa bahwa ideologi Pancasila tidak pas dengan kondisi dan situasi bangsa Indonesia pada saat itu. Oleh karena itu, adanya pemberontakan PKI merupakan bentuk upaya yang dilakukan oleh Amir Syarifuddin bersama dengan kelompoknya dalam rangka untuk mengganti ideologi nasional Indonesia yaitu Pancasila dengan ideologi komunis.  (baca juga: Faktor Penghambat Perubahan Sosial Budaya)

3. Membentuk Negara Komunis

Tujuan akhir dari pemberontakan dalam PKI Madiun 1948 adalah menjadikan negara kesatuan republik Indonesia menjadi negara komunis. Hal ini merupakan tindak lanjut yang dilakukan oleh Amir Syarifuddin beserta kelompoknya setelah berhasil mengganti ideologi Pancasila. Negara komunis yang ingin dibentuk melalui negara Indonesia merupakan negara komunis yang berkiblat pada Uni Soviet pada saat itu yang menganut paham komunisme. Rencana penamaan negara juga sudah dilakukan pada masa pemberontakan dalam PKI Madiun ini. Jika pemberontakan berhasil dilakukan, maka nama negara Indonesia akan dirubah menjadi Negara Republik Soviet Indonesia. Pembentukan Indonesia menjadi negara komunis dapat menimbulkan dampak yang negatif bagi bangsa Indonesia khususnya pada keragaman suku bangsa dan budaya di Indonesia pada saat itu.

Aksi Perjalanan Pemberontakan Dalam PKI Madiun 1948

Setelah Arif Syarifuddin membentuk Front Demokrasi Rakyat sebagai bentuk kekecewaan yang timbul karena diberhentikannya kabinet yang dipimpinnya secara sepihak, Arif Syarifuddin kemudian menyusun beberapa strategi untuk merebut kembali kekuasaan kabinet Hatta yang sedang berjalan. Strategi yang direncanakan dan dilakukan oleh Front Demokrasi Rakyat untuk melancarkan rencana Arif Syarifuddin lebih cenderung pada pendekatan kepada masyarakat melalui hasutan-hasutan agar masyarakat Indonesia menjadi terpengaruh. (baca juga: Alat Komunikasi Zaman Sekarang)

Tentu saja, aksi yang dilakukan oleh Arif Syarifuddin berserta dengan Front Demokrasi Rakyat menimbulkan permasalahan hukum di Indonesia yang serius karena berpengaruh pada stabilitas nasional apalagi pada saat itu, Indonesia sendiri masih berada di bawah tekanan bangsa lain dalam mempertahankan kemerdekaannya. Adapun beberapa aksi yang dilancarkan oleh Front Demokrasi Indonesia untuk melancarkan rencana Amir Syarifuddin dalam merebut kembali posisi kabinet diantaranya:

Menumbuhkan Rasa Tidak Percaya di Dalam Masyarakat.
Front Demokrasi Rakyat terjun di tengah-tengah kehidupan masyarakat melalui pendekatan-pendakatan secara halus maupun frontal untuk menumbuhkan rasa ketidak percayaan masyarakat kepada jalannya pemerintahan saat itu. FDR melakukan berbagai macam penghasutan kepada masyarakat agar terjadi gejolak yang dapat mengganggu stabilitas nasional negara Indonesia. (baca juga: Kegiatan Ekspor Impor)

Selain itu, aksi FDR juga menyasar kepada jaringan-jaringan kaum buruh dan kaum petani dengan melakukan aksi pemogokan kerja secara besar-besaran yang dapat membuat kondisi ekonomi di Indonesia menjadi terganggu. Cara-cara kotor yang dilakukan oleh FDR tentu saja menggeser nilai-nilai manusia sebagai makhluk ekonomi yang bermoral karena hasutan-hasutan yang dilakukan oleh FDR kepada kaum buruh dan kaum petani membuat kedua kaum tersebut menjadi merasa tidak percaya kepada pemerintah walupun hasutan tersebut tidak sesuai dengan kenyataan yang terjadi di Indonesia.

Membentuk Front Nasional
Dalam melancarkan aksinya, Front Demokrasi Rakyat juga tidak hanya terjun di dalam kehidupan masyarakat Indonesia. FDR juga melakukan penetrasi kepada pihak pemerintahan Indonesia dengan mengirimkan wakil-wakilnya untuk duduk di dalam sistem pemeritahan saat itu. Melalui wakil-wakil FDR yang ada di dalam sistem pemerintahan, FDR melakukan penghasutan kepada anggota-anggota sistem pemerintahan untuk membentuk sebuah poros atau front yang dinamakan dengan Front Nasional. (baca juga: Batas Wilayah Laut Di Indonesia)

Front Nasional ini dibentuk dengan mempersatukan berbagai macam bentuk kekuasaan dalam aspek sosial maupun politik terutama yang memiliki rasa kekecewaan terhadap kebijakan pemerintah untuk bergabung dan bersama-sama melakukan intrik dalam pemerintahan. Intrik yang dilakukan oleh Front Nasional ini ditujukan untuk memberikan goncangan atau masalah pada sistem pemerintahan yang sedang berjalan pada saat itu, yaitu kabinet yang dipimpin oleh Hatta.

Menjadikan Madiun Sebagai Basis Pemerintah
Front Demokrasi Rakyat yang dipimpin oleh Amir Syarifuddin menjadikan kota Madiun yang terletak di provinsi Jawa Timur sebagai basis atau markas pemerintahan. Dengan kata lain, basis pemerintahan yang didirikan oleh FDR merupakan basis pemerintahan tandingan dari pemerintahan pusat Indonesia. Untuk melancarkan pembuatan basis pemerintahan di kota Madiun, FDR melakukan pendekatan-pendekatan secara khusus kepada masyarakat kota Madiun dan sekitarnya melalui fungsi bahasa daerah setempat serta melakukan penghasutan kepada masyarakat yang ada di kota terssebut. (baca juga:Jenis-jenis Akomodasi)

Selain menjadikan kota Madiun sebagai basis pemerintahan, FDR juga menjadikan kota Madiun sebagai tempat pemasok kebutuhan FDR yang tersebar di daerah-daerah Indonesia. FDR juga memilih kota Surakarta untuk melakukan aksi pemberontakannya. Namun khusus untuk kota Surakarta, FDR hanya melakukan kekacauan sebagai alat pengalihan Tentara Nasional Indonesia (TNI) agar aksi FDR di kota-kota Indonesia lainnya dapat berjalan dengan lancar.

Penarikan Pasukan
Selama menjalankan asksinya, Front Demokrasi Rakyat telah memiliki pasukan yang tersebar di daerah-daerah. Pasukan ini tadinya ikut membantu Indonesia dalam rangka mempertahanan kemerdekaan Indonesia. Namun dengan adanya propaganda dan hasutan yang dilakukan oleh FDR, beberapa pasukan pejuang kemerdekaan dapat dikendalikan oleh FDR. FDR kemudian menarik semua pasukan yang dimilikinya dari medan perang untuk menyebar ke beberapa wilayah binaan FDR yang ada di Indonesia, sebagai berikut tujuannya:


Penyebaran pasukan FDR ke wilayah-wilayah binaan FDR ditujukan untuk memperkuat pertahanan dan keamanan di dalam wilayah binaan tersebut. (baca juga: Ciri-Ciri Kapitalisme)
Pasukan yang tersebar di berbagai wilayah binaan FDR membuat posisi FDR menjadi semakin kuat sehingga Amir Syarifuddin menjadi semakin yakin untuk menjalankan aksinya dalam merebut kekuasaan kabinet yang sedang berjalan di dalam sistem pemerintahan saat itu.
Bergabungnya tokoh bermana Muso yang kembali dari kota Moskow pada 11 Agustus 1948 membuat posisi Amir Syarifuddin menjadi semakin menguntungkan. Amir Syarifuddin bersama dengan kelompoknya yaitu

Front Demokrasi Rakyat segera melakukan tindakan pendekatan kepada Muso yang membuahkan hasil yaitu terjadi penggabungan kekuatan diantara Muso dan Amir Syarifuddin.

Penggabungan kekuatan ini terjadi diantara Partai Komunis Indonesia dengan Front Demokrasi Rakyat yang memperkuat usaha Amir Syarifuddin dalam menggulingkan pemerintahan kabinet Hatta yang sedang berjalan pada saat itu.

Kondisi ini makin memperparah keadaan karena pendekatan dan hasutan-hasutan yang dilakukan oleh kedua kelompok ini makin gencar, terutama dalam menumbuhkan rasa ketidak percayaan masyarakat kepada pemerintah melalui aksi propaganda.

Propaganda yang dilakukan oleh kedua kelompok tersebut dapat menjadi salah satu faktor perubahan sosial di dalam masyarakat karena terdapat pembentukan opini di dalam masyarakat yang membuat kehidupan bermasyarakat menjadi bergejolak.

Gejolak yang timbul di dalam masyarakat karena adanya gerakan pemberontakan yang dilakukan oleh PKI dan FDR didasari oleh pemerintah pada waktu itu. Pemerintah kemudian melakukan tindakan yang tegas melalui TNI untuk memulihkan keadaan yang terjadi. Upaya-upaya diplomasi juga dilakukan oleh pemerintah untuk meredam gerakan pemberontakan ini namun tidak membuahkan hasil yang memuaskan. Oleh karena itu, pada pertengahan bulan September 1948, tejadi pertempuran diantara pemerintah Indonesia melalui TNI dengan kelompok pemberontak yaitu PKI dan FDR yang terpusat di kota Madiun yang terletak di provinsi Jawa Timur.

Kondisi ini makin diperparah dengan adanya proklamasi pendirian negara Republik Soviet Indonesia yang dilakukan oleh Muso pada 18 September 1948. Mendengar hal tersebut, pemerintah Indonesia melalui TNI melalukan gerakan cepat untuk menumpas pemberontakan PKI dan FDR yang terjadi dengan berujung pada kematian Muso dan penangkapan Amir Syarifuddin beserta dengan pendukungnya yang kemudian dijatuhi hukuman mati oleh pemerintah Indonesia sehingga perkembangan awal politik pada awal kemerdekaan secara berangsur-angsur membaik.

Demikianlah penjelasan mengenai latar belakang pemberontakan dalam PKI Madiun 1948 beserta sejarahnya. Pemberontakan yang terjadi pada saat itu merupakan bentuk pelampiasan rasa ketidakpuasan dan kekecewaan suatu kelompok terhadap pemerintah. Di era sekarang, bisa saja pemberontakan kembali terjadi. Oleh karena itu kita sebagai warga negara Indonesia wajib menjaga persatuan dan kesatuan bangsa agar pemberontakan-pemberontakan di masa lalu tidak terulang kembali. Kiranya artikel ini dapat bermanfaat bagi para pembaca sekalian.

Peristiwa Madiun 1948, Sejarah Kebiadaban PKI Terhadap Ulama

Peristiwa Madiun 1948, Sejarah Kebiadaban PKI Terhadap Ulama


PERISTIWA Madiun 69 tahun silam tak akan pupus dari sejarah perjalanan bangsa Indonesia. Pemberontakan yang dilakukan Partai Komunis Indonesia (PKI) pada tahun 1948 itu merupakan peristiwa kelam yang telah merenggut banyak nyawa ulama dan tokoh-tokoh agama.

Sejak Peristiwa Madiun 1948 dan pemberontakan G30SPKI 1965 menjadi bukti betapa hebatnya ancaman komunisme di Indonesia. Sejarah mencatat bahwa Peristiwa Madiun 1948 dilakukan anggota PKI dan partai-partai kiri lainnya yang tergabung dalam organisasi bernama Front Demokrasi Rakyat (FDR).

Read Also:
Anggotanya Dibunuh, Pangdam Perintahkan 'HABISI' Seluruh Geng Motor di Riau!
Jenderal Amerika Kaget saat Masuk Markas Marinir Cilandak, 'Sambutan' Ekstrem Peluru Tajam

Adapun latar belakang terjadinya pemberontakan PKI Madiun 1948 menyusul jatuhnya kabinet Amir Syarifuddin pada masa itu. Penyebab jatuhnya kabinet Amir akibat kegagalannya pada perundingan Renville yang merugikan Indonesia. Untuk merebut kembali kedudukannya, 28 Juni 1948 Amir Syarifuddin membentuk Front Demokrasi Rakyat (FDR).

Organisasi ini didukung oleh Pemuda Sosialis Indonesia, Partai Sosialis Indonesia, PKI, dan Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia (SOBSI). Mereka melancarkan propaganda anti pemerintah, mengadakan pemogokan-pemogokan kerja bagi buruh. Selain itu melakukan pembunuhan ulama dan pejuang kemerdekaan.

Peristiwa Madiun 1948, Sejarah Kebiadaban PKI Terhadap Ulama


Adapun tujuan mereka adalah ingin meruntuhkan NKRI yang berdasarkan Pancasila dan menggantinya dengan negara komunis. Segala cara pun mereka lakukan demi memuluskan misinya.

Sebelum Peristiwa Madiun, PKI juga telah melakukan kekacauan di Solo (Surakarta) hingga menewaskan banyak perwira TNI AD dan tokoh pejuang 1945. Oleh PKI, daerah Surakarta dijadikan daerah yang kacau (wildwest). Sedangkan Madiun dijadikan PKI sebagai basis gerilya.

Pada tanggal 18 September 1948, Musso memproklamasikan berdirinya pemerintahan Soviet di Indonesia. Sejak saat itu, gerakan PKI ini semakin merajalela hingga menguasai dan menduduki tempat-tempat penting di Madiun.

See Also:
Ternyata TNI Miliki Rudal yang Bisa Tenggelamkan Kapal Induk
Mantap Indonesia akan Miliki 12 Heli H-47 Chinook untuk Misi Tempur dan Tangani Bencana Alam

Sejarawan Agus Sunyoto mengungkapkan fakta sejarah bagaimana kebiadaban PKI melakukan makar dan pemberontakan kala itu. Agus menceritakan kekejaman PKI ini di berbagai sumber referensi seperti buku, makalah, buletin dan forum diskusi atau seminar.

Agus yang juga penulis buku ‘Banser Berjihad Menumpas PKI’ ini mengungkapkan ada ribuan nyawa umat Islam termasuk para ulama NU menjadi korban dan simbol-simbol Islam dihancurkan.

Keberhasilan FDR/PKI menguasai Madiun didisusul dengan aksi penjarahan, penangkapan sewenang-wenang terhadap musuh PKI. Mereka tidak segan-segan menembak, hingga berbagai macam tindakan fasisme berlangsung sehingga membuat masyarakat Kota Madiun ketakutan.

Agus menceritakan, pada tahun 1948 itu para pimpinan Masyumi dan PNI ditangkap dan dibunuh. Orang-orang berpakaian Warok Ponorogo dengan senjata revolver dan kelewang menembak atau membunuh orang-orang yang dianggap musuh PKI. Mayat-mayat pun bergelimpangan di sepanjang jalan. Bendera merah putih dirobek diganti bendera merah berlambang palu arit. Potret Soekarno diganti potret Moeso.

Peristiwa Madiun 1948, Sejarah Kebiadaban PKI Terhadap Ulama
Liputan wartawan ‘Sin Po’ yang berada di Madiun, menuliskan detik-detik ketika PKI pamer kekejaman itu dalam reportase yang diberi judul: 'Kekedjeman kaoem Communist; Golongan Masjoemi menderita paling heibat; Bangsa Tionghoa "ketjipratan" djoega.'

Tanggal 18 September 1948 pagi sebelum terbit fajar, sekitar 1.500 orang pasukan FDR/PKI (700 orang di antaranya dari Kesatuan Pesindo pimpinan Mayor Pandjang Djoko Prijono) bergerak ke pusat Kota Madiun.

Kesatuan CPM, TNI, Polisi, aparat pemerintahan sipil terkejut ketika diserang mendadak. Terjadi perlawanan singkat di markas TNI, kantor CPM, kantor Polisi. Pasukan Pesindo bergerak cepat menguasai tempat-tempat strategis di Madiun. Saat fajar terbit, Madiun sudah jatuh ke tangan FDR/PKI. Sekitar 350 orang ditahan.

Di waktu yang sama, di Kota Magetan sekitar 1.000 orang pasukan FDR/PKI bergerak menyerbu Kabupaten, kantor Komando Distrik Militer (Kodim), Kantor Onder Distrik Militer (Koramil), Kantor Resort Polisi, rumah kepala pengadilan, dan kantor pemerintahan sipil di Magetan.

Sama dengan penyerangan mendadak di Madiun, setelah menguasai Kota Magetan dan menawan bupati, patih, sekretaris kabupaten, jaksa, ketua pengadilan, kapolres, komandan Kodim, dan aparat Kabupaten Magetan,  mereka juga menangkap dan membunuh tokoh-tokoh Masyumi dan PNI di kampung-kampung, pesantren-pesantren, desa-desa.

See Also:
Cerita Ketika KSAD Jenderal Gatot Nurmantyo Kenakan Baret Kopassus
Saat Tentara Hizbullah Segan dengar Nama Kopassus yang Lindungi Tentara Spanyol!

Gadis Rasid, seorang pejuang yang juga wartawan pada tahun 1940-an menulis reportase tentang kebiadaban FDR/PKI tersebut. Gadis menyaksikan pembantaian massal di Gorang-gareng, Magetan. Pembunuhan, perampokan dan penangkapan yang dilakukan FDR/PKI itu diberitakan surat kabar Merdeka 1 November 1948.

Meski tidak sama dengan aksi serangan di Madiun dan Magetan yang sukses mengambil alih pemerintahan, serangan mendadak yang sama pada pagi hari tanggal 18 September 1948 itu dilakukan oleh pasukan FDR/PKI di Trenggalek, Ponorogo, Pacitan, Ngawi, Purwodadi, Kudus, Pati, Blora, Rembang, Cepu.

Sama dengan di Madiun dan Magetan, aksi serangan FDR/PKI selalu meninggalkan jejak pembantaian massal terhadap musuh-musuh mereka. Antropolog Amerika, Robert Jay, yang ke Jawa Tengah pada tahun 1953 mencatat bagaimana PKI melenyapkan tidak hanya pejabat pemerintah, tapi juga penduduk, terutama ulama-ulama ortodoks, santri dan mereka yang dikenal karena kesalehannya kepada Islam: mereka itu ditembak, dibakar sampai mati, atau dicincang-cincang.

Masjid dan madrasah dibakar, bahkan ulama dan santri-santrinya dikunci di dalam madrasah, lalu madrasahnya dibakar. Tentu mereka tidak bisa berbuat apa-apa karena ulama itu orang-orang tua yang sudah ubanan, orang-orang dan anak-anak laki-laki yang baik yang tidak melawan. Setelah itu, rumah-rumah pemeluk Islam dirampok dan dirusak.

Tindakan kejam FDR/PKI selama menjalankan aksi kudeta itu menyulut amarah Presiden Soekarno yang mengecam tindakan tersebut dalam pidato yang berisi seruan bagi rakyat Indonesia untuk menentukan nasib sendiri dengan memilih: “Ikut Muso dengan PKI-nya yang akan membawa bangkrutnya cita-cita Indonesia merdeka-atau ikut Soekarno-Hatta, yang Insya Allah dengan bantuan Tuhan akan memimpin Negara Republik Indonesia ke Indonesia yang merdeka, tidak dijajah oleh negara apa pun juga.

Presiden Soekarno menyeru agar rakyat membantu alat pemerintah untuk memberantas semua pemberontakan dan mengembalikan pemerintahan yang sah di daerah. Madiun harus lekas di tangan kita kembali”.

Sejarah mencatat, bahwa antara tanggal 18-21 September 1948 gerakan makar FDR/PKI yang dilakukan dengan sangat cepat itu tidak bisa dimaknai lain kecuali sebagai pemberontakan. Sebab dalam tempo hanya tiga hari, FDR/PKI telah membunuh pejabat-pejabat negara baik sipil maupun militer, tokoh masyarakat, tokoh politik, tokoh pendidikan, bahkan tokoh agama.

Read Also:
Anoa Perannya bagi Infanteri Mekanis Angkatan Darat
Kamu Wajib Tahu Mobilisasi Militer Amerika Di Kawasan Asia - Commando

Setelah gerakan makar FDR/PKI berhasil ditumpas TNI dibantu masyarakat, awal Januari tahun 1950 sumur-sumur ‘neraka’ yang digunakan FDR/PKI mengubur korban-korban kekejaman mereka dibongkar oleh pemerintah. Puluhan ribu masyarakat dari Magetan, Madiun, Ngawi, Ponorogo, Trenggalek datang menyaksikan pembongkaran sumur-sumur ‘neraka’.

Mereka bukan sekadar melihat peristiwa itu, namun sebagian di antara mereka ingin mencari anggota keluarganya yang diculik PKI. Diantara sumur-sumur ‘neraka’ yang dibongkar itu, informasinya diketahui justru berdasar pengakuan orang-orang PKI sendiri.

Dalam proses pembongkaran sumur-sumur ‘neraka’ itu terdapat tujuh lokasi ditambah dua lokasi pembantaian di Magetan, yaitu, (1) Sumur ‘neraka’ Desa Dijenan, Kecamatan Ngadirejo, Kabupaten Magetan; (2) Sumur ‘neraka’ I Desa Soco, Kecamatan Bendo, Kabupaten Magetan; (3) Sumur ‘neraka’ II Desa Soco, Kecamatan Bendo, Kabupaten Magetan; (4) Sumur ‘neraka’ Desa Cigrok, Kecamatan Kenongomulyo, Kabupaten Magetan; (5). Sumur ‘neraka’ Desa Pojok, Kecamatan Kawedanan, Kabupaten Magetan; (6) Sumur ‘neraka’ Desa Batokan, Kecamatan Banjarejo, Kabupaten Magetan; (7) Sumur ‘neraka’ Desa Bogem, Kecamatan Kawedanan, Kabupaten Magetan.

Sementara dua lokasi killing fields yang digunakan FDR/PKI membantai musuh-musuhnya, yaitu ruang kantor dan halaman pabrik gula Gorang-gareng dan Alas Tuwa di dekat Desa Geni Langit di Magetan.

Fakta kekejaman FDR/PKI tahun 1948 ini disaksikan ribuan warga masyarakat yang menyaksikan langsung pembongkaran sumur-sumur ‘neraka’ itu. Setelah diidentifikasi diperoleh sejumlah nama pejabat pemerintahan maupun TNI, ulama, tokoh Masjoemi, tokoh PNI, polisi, camat, kepala desa, bahkan guru.

SEE ALSO:
Long March Siliwangi, Perjalanan Panjang Prajurit Divisi Siliwangi dari Yogyakarta ke Jawa Barat
Nekat Hadang Komandan Pleton TNI, Begini Nasib Komplotan Begal di Lampung Ini

Di sumur tua Desa Soco ditemukan kurang lebih 108 jenazah korban kebiadaban PKI. Sebanyak 78 orang di antaranya dapat dikenali, sedangkan sisanya tidak dikenal. Salah satu di antara korbannya adalah KH Soelaiman Zuhdi Affandi, pimpinan Ponpes Ath-Tohirin Mojopurno, Magetan.

Kemudian, Kyai Imam Mursjid Muttaqin, Mursyid Tarikat Syattariyah Pesantren Takeran. Jasadnya ditemukan di Sumur ‘neraka’ II Desa Soco, Kecamatan Bendo, Kabupaten Magetan. Selain Kyai Imam Mursjid, ulama lain ikut menjadi korban yaitu Kyai Zoebair, Kyai Malik, Krai Noeroen, Kyai Moch Noor.

Lalu, di sumur tersebut ditemukan jasad R Ismaiadi, Kepala Resort Polisi Magetan; R Doerjat (Inspektur Polisi Magetan), Kasianto, Soebianto, Kholis, Soekir, (keempatnya anggota Polri); dan masih banyak pejabat dan ulama lainnya.

Di sumur ‘neraka’ I Desa Soco ditemukan jasad Soehoed (camat Magetan); R Moerti (Kepala Pengadilan Magetan); Mas Ngabehi Soedibyo (Bupati Magetan). Kemudian ada sekitar 40 mayat tidak dikenali karena bukan warga Magetan.

Selain itu, di Sumur ‘neraka’ Desa Cigrok, Kecamatan Kenongomulyo, Kabupaten Magetan ditemukan jasad KH Imam Shofwan, pengasuh Pesantren Thoriqussa’ada Rejosari, Madiun. Imam Shofwan dikubur hidup-hidup di salam sumur tersebut. Ketika dimasukkan ke dalam sumur, ulama NU ini masih sempat mengumandangkan adzan.

Dua putranya Kyai Zubeir dan Kyai Bawani juga menjadi korban dan dikubur hidup bersama-sama. Sebanyak 22 jenazah ditemukan di sumur ini. Dan masih banyak tokoh ulama lainnya yang menjadi korban keganasan PKI.

Read Also:
Cerita Duka Saat Peluru Sniper Menembus Kepala Prajurit Kopassus di Ambon
Tingkatkan Keahlian Dan Ketangkasan Prajurit Dengan Latihan Menembak

Kebiadaban FDR/PKI selama melakukan aksi makarnya tahun 1948 adalah rekaman peristiwa yang tidak akan terlupakan. Sumur-sumur tua ‘neraka’ yang tersebar di Magetan dan Madiun adalah saksinya.

Tak heran jika tindakan keji PKI berulang kembali pada 1 Oktober 1965 di mana para jenderal TNI AD diculik dan dibunuh secara sadis. Mayatnya kemudian ditemukan di dalam sumur ‘neraka’ Lubang Buaya di dekat Bandara Halim, Jakarta Timur.

Dengan ditumpasnya pemberontakan PKI di Madiun dan pemberontakan G30SPKI 1965, maka selamatlah bangsa Indonesia dari bahaya komunis. Kini, TNI dan ulama adalah pihak yang selalu di barisan terdepan melawan kebangkitan paham dan gerakan kiri tersebut.

SUMBER:
[1] Sunyoto, Agus dkk. 1990. Lubang-Lubang Pembantaian: Pemberontakan FDR/PKI 1948 di Madiun. Grafiti Press.
[2] Sunyoto, Agus. 1996. Banser Berjihad Menumpas PKI. Lembaga Kajian dan Pengembangan, PW GP Ansor Jawa Timur & Pesulukan Thoriqoh Agung. Tulung Agung.
[3] Islamedia-Media Islam Online.
[4] Dihimpun dari berbagai sumber.
(rhs)

Pembersihan Pasukan Antek G30 S PKI oleh Tentara Siliwangi

Pembersihan Pasukan Antek G30 S PKI oleh Tentara Siliwangi


Meski Comite Daerah Besar (CDB) PKI di Jawa Barat belum sempat membentuk Dewan Revolusi di Jawa Barat pada. Namun ada beberapa pergerakan pasukan yang telah disusupi dan dipengaruhi PKI lewat Biro Khususnya di Jawa Barat.

Sehingga ketika ada pengumuman di RRI terjadinya Gerakan 30 September 1965 di Jakarta, langsung disambut dengan adanya pergerakan pada 1 Oktober 1965 yang dilakukan pasukan anggota dari Sekolah Para Komando Angkatan Darat (SPKAD) di Cimahi. Mereka yang melakukan pergerakan adalah bekas anak buah eks Letkol Inf Untung Syamsuri.

Mereka melakukan pembongkaran gudang senjata dan mengambilnya serta mengadakan demonstrasi keliling Kota Cimahi. Sambil membawa senjata dan bendera Merah Putih, mereka meneriakkan “Hidup Bung Karno” dan “Hidup Dewan Revolusi”. Pergerakan itu juga diikuti oleh pasukan dari Pusat Kesenjataan Artileri Medan (Pussen Armed) dan Batalyon Artileri Medan 14.

Namun berkat kesigapan Panglima Kodam VI/Siliwangi (sekarang Kodam III) Mayjen TNI Ibrahim Adjie situasi dapat segera diatasi. Pangdam mengerahkan pasukan Brigade Infanteri 15/Tirtayasa sekarang Brigif 15/Kujang II dan Polisi Militer untuk mengatasi keadaan.


Pembersihan Pasukan Antek G30 S PKI oleh Tentara Siliwangi

Selanjutnya Pangdam VI/Siliwangi selaku Penguasa Pelaksana Dwikora Daerah (Pepelrada) Jawa Barat, langsung mengeluarkan pengumuman pada 1 Oktober 1965. Isi pokok pengumuman itu sebagai berikut:
1) Sampai saat ini belum ada kejelasan tentang situasi di Jakarta.
2) Kami selalu berusaha mengadakan hubungan langsung dengan Pemimpin Besar di Jakarta.

Sementara itu peliharalah persatuan dan kewaspadaan, jangan membuat tafsiran dan kesimpulan sendiri-sendiri, dan jangan kena provokasi yang akan merusak persatuan dan keamanan masyarakat.

Dalam melakukan upaya pembersihan terhadap unsur militer dan sipil yang pro dalam Gerakan 30 September 1965, Mayjen TNI Ibrahim Adjie berpesan kepada jajaran Kodam Siliwangi agar tidak membunuh anggota PKI namun hanya sebatas menangkapnya saja.
Hal ini dilakukan Ibrahim Adjie karena telah mendapat pesan dari Presiden Soekarno di Istana Bogor agar tidak membunuhi anggota PKI karena belum tentu terlibat langsung dalam Gerakan 30 September 1965.

Baca Juga:
Ketika Dua Pasukan Terbesar TNI Berperang, Perwira Diculik
Long March Siliwangi, Perjalanan Panjang Prajurit Divisi Siliwangi dari Yogyakarta ke Jawa Barat

Kemudian pada 4 Oktober 1965 pasukan pemukul Kodam VI/Siliwangi dan jajaran Korem 63/Sunan Gunung Jati melancarkan gerakan operasi militer untuk menyergap 150 orang anggota pasukan G30S/PKI yang melarikan diri dari jakarta ke daerah Cirebon.

Selanjutnya, sampai dengan 12 Oktober 1965 operasi pembersihan terhadap gerombolan G30S/PKI di daerah Korem 63/Sunan Gunung Jati, Cirebon telah berhasil menahan 834 orang yang dicurigai terlibat dalam pemberontakan.

Lalu pada 14 Oktober 1965 di Pegaden Haru telah dilakukan penggerebekan oleh Kodam Siliwangi terhadap rumah seorang WNI keturunan China. Rumah itu diketahui sering digunakan sebagai tempat rapat-rapat gelap dalam usaha mereka membantu G30S/PKI.

Pada 12 Oktober 1965 pukul 03.00 Pasukan Kodam VI/ Siliwangi berhasil menyerahkan eks Letkol Untung Syamsuri, Ketua “Dewan Revolusi”. Dia telah berhasil ditangkap di daerah Kodam VII/Diponegoro oleh Polisi Militer setempat. Kemudian Untung dibawa ke Cirebon Karena masuk wilayah Kodam VI/Siliwangi sehingga pengawalan terhadap Letkol Untung hingga ke Jakarta diserahkan ke Tentara Siliwangi.

Penyerahan eks Letkol Untung ke Jakarta dilakukan dengan pengawalan ketat pasukan Kodam Siliwangi yaitu satu Peleton Para Kujang I, satu Unit Kavaleri dan satu Unit Polisi Militer Angkatan Darat (Pomad).

Baca Juga:
Cerita Singkat Pemberontakan PETA di Blitar
Ketika Resimen Pelopor Menyerang Markas RPKAD di Cijantung
Long March Siliwangi, Perjalanan Panjang Prajurit Divisi Siliwangi dari Yogyakarta ke Jawa Barat

Selanjutnya Tentara Kodam Siliwangi melancarkan razia di Kota Sukabumi. Gerakan ini berhasil menangkap 20 orang oknum yang terlibat G30S/PKI yang kemudian terbukti pernah dilatih di Lubang Buaya. Dari tangan mereka berhasil disita beberapa dokumen penting.

Demikian pula di wilayah Korem 061/Suryakencana Bogor pun dilakukan razia dan penangkapan oleh jajaran Tentara Kodam Siliwangi terhadap oknum-oknum TNI yang dicurigai. Sampai tanggal 9 November 1965, sebanyak 789 orang ditahan di daerah Bogor.

Operasi militer yang dilancarkan di daerah Karawang telah berhasil menangkap sejumlah anggota PKI. Dari mereka dapat diketahui, bahwa di Kabupaten Karawang sebelum terjadi pemberontakan G30S/PKI telah disiapkan susunan pemerintahan daerah yang baru.

Berdasarkan hasil pemeriksaan yang diketuai oleh Dan Pom V1/3-5 Letda CPM Usman Sjamsu, para tawanan tersebut mengatakan bahwa Gatot Kotjo BA (Ketua Pemuda Rakyat) sebagai calon Komandan Kodim 0604, Mas Mira Subahadi sebagai calon bupati dan Saidi Sugito sebagai calon Kepala Polisi Resort.

Sedangkan senjata mereka diperoleh dari Kabupaten Bekasi dan sebagai daerah pengunduran adalah Cidore, Kecamatan Pangkalan Dati II Karawang.

Di Tasikmalaya dan Garut serta kabupaten-kabupaten lainnya sebanyak 300.000 orang yang tergabung dalam Komando Aksi Umat Islam dan Brigade Siaga mendukung operasi militer yang dilakukan oleh Kodam Siliwangi. Namun demikian ada pula dari anggota-anggota PKI dan ormas-ormasnya sendiri yang mengutuk pemberontakan tersebut. Hal ini disebabkan mulai timbulnya kesadaran di kalangan mereka bahwa tindakan gerombolan G30S/PKI adalah tindakan kontra revolusi dan menyeleweng dari ideologi Pancasila.

Banyak di antara mereka yang mengatakan telah ditipu oleh atasannya. Oleh sebab itu, mereka menyatakan ke luar dari keanggotaan PKI.

Sebelum Pangdam VI/Siliwangi Mayjen TNI Ibrahim Adjie selaku Pepelrada mengumumkan pembubaran PKI, maka atas kesadaraannya sendiri anggota-anggota PKI tersebut telah membubarkan diri. Secara resmi dalam briefing di Aula Kodam VI tanggal 17 November 1965, Pangdam VI/Siliwangi Mayjen Ibrahim Adjie di hadapan para wakil partai politik dan organisasi­organisasi massa mengumumkan pembubaran PKI dan ormas-­ormasnya.

Selanjutnya pembersihan besar-besaran unsur militer yang pro PKI kembali dilakukan saat Panglima Kodam VI/Siliwangi dijabat Mayjen TNI HR Dharsono. Pak Ton sapaan akrab HR Dharsono merupakan penganti Ibrahim Adjie.

Sebelumnya HR Dharsono adalah Kasdam VI/Siliwangi atau wakil dari Ibrahim Adjie di jajaran pasukan kebanggaan warga Jawa Barat tersebut.

Dimana atas perintah Mayjen TNI HR Dharsono sejumlah perwira di jajaran Kodam Siliwangi yang dicurigai terlibat PKI, antara lain Kolonel Djukardi yang menjabat sebagai Wali Kota Bandung, Mayjen Rukman, Brigjen Soemali dan lain-lain ditangkap. Selain itu ditangkap juga beberapa Komandan Kodim dan perwira intelijen yang disusupi PKI . Hal ini berdasarkan data dari anggota Biro Khusus PKI yang berhasil ditangkap oleh Jajaran Kodam Siliwangi.

Sumber :
- Buku “Komunisme di Indonesia Jilid IV: Pemberontakan G.30.S/ PKI Dan Penumpasannya (Tahun 1960-1965), Jakarta: Pusjarah TNI, 1999
- www.G30 S-PKI
(sms)

Long March Siliwangi, Perjalanan Panjang Prajurit Divisi Siliwangi dari Yogyakarta ke Jawa Barat

Long March Siliwangi, Perjalanan Panjang Prajurit Divisi Siliwangi dari Yogyakarta ke Jawa Barat

Sejarah. Long March Siliwangi, adalah salah satu peristiwa paling fenomenal dalam perjalanan bangsa Indonesia khususnya bagi Tentara Nasional Indonesia. Long March Siliwangi adalah peristiwa pindahnya pasukan Siliwangi dari Yogyakarta dan sekitar Jawa Tengah yang bergerak kembali ke Jawa Barat pada bulan Februari 1949.

Awalnya, pasukan Siliwangi yang ada di Jawa Barat diperintah untuk pindah atau hijrah ke Yogyakarta oleh Panglima Soedirman karena hasil dari perjanjian Renville yang mengharuskan Indonesia menyerahkan Jawa Barat kepada pihak Belanda. Tak hanya para prajurit Siliwangi saja yang hijrah ke Yogyakarta, banyak dari keluarga, istri dan anak mereka yang kemudian menyusul ke Yogyakarta dan sekitaran Jawa Tengah.

Sebelumnya, pemerintah Republik dan Belanda menyepakati sebuah perjanjian di atas Kapal Renville di Teluk Jakarta yang isinya antara lain, Jawa Barat diserahkan pada Belanda. Sebagai konsekuensinya, pasukan Divisi Siliwangi harus meninggalkan Jawa Barat dan pindah ke Yogyakarta yang sesuai dengan isi perjanjian adalah menjadi milik pemerintah Indonesia. Saat itu, Yogyakarta juga adalah Ibukota Indonesia. Prajurit Divisi Siliwangi lantas melakukan long march ke Yogyakarta.

Saat berada di Yogya, pasukan Siliwangi mendapat perintah untuk memadamkan pemberontakan PKI Muso atau yang lebih dikenal dengan peristiwa Madiun 1948. Setelah bertempur melawan pasukan Muso, seharusnya prajurit-prajurit Siliwangi kembali ke Yogya dan Jawa Tengah untuk bergabung dalam kantung-kantung perlawanan TNI yang sedang bergerilya menghadapi Belanda dan terbagi dalam beberapa kesatuan Wehkreise.
Iring-iringan Prajurit Divisi Siliwangi saat kembali ke Jawa Barat
Bertepatan dengan itu, pada 19 Desember 1948, Belanda juga melancarkan Agresi Militer II dan menguasai Yogyakarta. Segera saja Panglima Soedirman mengeluarkan perintah melalui instruksi Panglima Besar yang dikenal dengan Perintah Siasat No. 1, agar pasukan Siliwangi kembali ke Jawa Barat untuk kemudian bergabung dengan pasukan lainnya dan melakukan perlawanan. Beberapa sejarawan menuliskan, Perintah Siasat No.1 ini disebut juga dengan Sandi Aloha.

Sejak itu, pasukan Siliwangi yang terdiri dari beberapa kompi di bawah pimpinan Letnan Kolonel Daan Yahya ini lantas bergerak kembali ke Jawa Barat. Pasukan Divisi Siliwangi ini juga membawa serta seluruh anggota keluarganya dan berjalan kaki selama kurang lebih dua bulan lamanya. Peristiwa ini tercatat sebagai salah satu peristiwa paling dramatis dan heroik dari para pejuang Indonesia saat perang mempertahankan kemerdekaan.

Sebuah perjalanan yang tentunya penuh mara-bahaya dengan melintasi gunung, hutan, lembah, jurang dan juga sungai yang penuh tantangan. Tak hanya ancaman binatang buas, di belakang mereka juga ada pasukan Belanda dari Batalyon Infanteri-V KNIL atau yang dikenal dengan sebutan Anjing Nica yang terus membuntuti dan memberi ancaman nyata pada mereka.

Tentunya Long March Siliwangi kembali ke Jawa Barat ini sangat berbeda dengan saat mereka hijrah ke Yogyakarta yang mendapat pengawalan dan jaminan keselamatan dari Belanda karena isi perjanjian Renville. Dalam perjalanannya kembali ke Jawa Barat, pasukan Anjing NICA Belanda adalah sebuah ancaman yang nyata bagi pasukan Siliwangi dan seluruh anggota keluarga, istri dan anak-anaknya.

Pasukan Belanda yang mengikuti iring-iringan prajurit Siliwangi juga terus mengintimidasi dan melakukan penyerangan. Pada suatu malam, pasukan Siliwangi dan pasukan Belanda yang membututi tanpa sengaja berpapasan hingga pecahlah sebuah pertempuran di malam yang gelap. Desingan peluru pun saling bersahutan dan membuat suasana yang gelap semakin mencekam.

Meski tak ada korban jiwa, namun Panglima Siliwangi Letkol Daan Yahya dan Komandan Batlyon ditangkap Belanda. Saat menghadapi Anjing NICA Belanda, prajurit-prajurit Siliwangi ini juga harus berusaha melindungi para wanita dan anak-anak yang turut serta.

Namun demikian, beratnya medan yang dilalui ini tak menghalangi prajurit-prajurit Siliwangi untuk terus berjalan menuju tanah Jawa Barat yang dirindukan, sekaligus mengemban perintah dari Panglima Soedirman. Pasukan Siliwangi kembali ke Jawa Barat untuk kembali menuju medan pertempuran, karena secara sepihak Belanda telah melanggar perjanjian.

Jalan terjal yang tak masuk akal dan pasukan Anjing NICA Belanda yang mengancam nyawa mereka, bukanlah suatu halangan dan tetap dihadapi dengan gagah berani. Prajurit-prajurit Divisi Siliwangi adalah pejuang yang tangguh, dari mereka pula kelak dikemudian hari lahir satu pasukan khusus milik TNI AD yang paling disegani di dunia, yakni Kopassus.

Sejarah juga mencatat sebuah pertempuran sengit yang melibatkan pasukan Siliwangi dan tentara Belanda di perbatasan Sumedang hingga Tanjungsiang, Subang. Selain kembali ke pos utama di beberapa kota, sebagian Kompi pasukan Siliwangi juga menyebar ke seluruh Jawa Barat hingga daerah perbatasan DKI. Sebagian dari mereka melalui rute Sumedang-Subang hingga Ciasem untuk kembali ke pos perjuangannya.

Seorang sejarawan dalam bukunya berjudul Long March Siliwangi yang diterbitkan oleh Kata Hasta Pustaka pada 2007 menuliskan, Kolonel TB Simatupang yang tanpa sengaja ikut dalam rombongan Siliwangi menyaksikan peristiwa tragis yaitu hilangnya istri dan anak-anak dari beberapa prajurit Siliwangi yang terseret arus saat mereka menyebrangi sungai yang sedang banjir.

TB Simatupang sendiri bergabung bersama rombongan setelah selamat dari penculikan pasukan Belanda di Yogyakarta. Dalam buku tersebut, tergambar betapa berat perjuangan prajurit-prajurit Divisi III Siliwangi yang hendak kembali dan berjuang di tanah kelahirannya di Jawa Barat,

Perjalanan Panjang pasukan Siliwangi yang membawa serta seluruh anggota keluarga dengan berjalan kaki sekitar dua bulan lamanya menuju Jawa Barat, adalah perjuangan patriot-patriot bangsa demi mempertahankan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Perjuangan yang akan dikenang untuk sepanjang masa, perjuangan putera-putera Tatar Sunda demi negara yang dicintainya. mch

Kategori

Kategori