Showing posts with label sejarah. Show all posts
Showing posts with label sejarah. Show all posts

AS, Inggris & Australia diyakini terlibat peristiwa 1965 di Indonesia

AS, Inggris & Australia diyakini terlibat peristiwa 1965 di Indonesia

Sri Lestari Wahyuningroem dari Internasional People's Tribunal (IPT) 65, mengatakan ada tiga negara yang terlibat secara langsung dalam peristiwa 1965 di Indonesia. Negara itu adalah Amerika, Australia, dan inggris.

Konteksnya saat itu adalah perang dingin yang melibatkan Amerika Serikat dan sekutunya melawan Uni Soviet. Peneliti FISIP UI itu menyebut bentuk keterlibatan ketiga negara berbeda-beda dalam menyokong peristiwa 65. Australia terlibat dengan propaganda. Sedangkan, Inggris ikut terlibat dengan propaganda serta materil.

Sementara, Amerika, dugaannya, terlibat lebih dalam saat peristiwa 1965. Menurutnya, arsip yang dibuka AS, belum memperlihatkan sepak terjangnya lantaran ada dokumen mengenai CIA yang masih ditutupi.

Sebelumnya, badan Keamanan Arsip Nasional AS dan Pusat Pengungkapan Dokumen Nasional (NDC), membuka 39 dokumen berisi 30 ribu lembar terkait peristiwa 1965 dalam bentuk digital. Dokumen rahasia itu merupakan laporan kedutaan besar Amerika Serikat tahun 1964-1968 dengan judul ' Jakarta Embassy Files'.

"Yang belum keluar dokumen-dokumennya itu dari pihak politik-politiknya Indonesia termasuk CIA itu tadi, CIA belum ada yang dirilis karena saya curiga data-data itu membuktikan secara langsung keterlibatan Amerika itu seperti apa dalam kudeta itu maupun dalam pembunuhan massal," ujar Ayu di kantor Amnesty Internasional Indonesia, Jumat (20/10).

Menurut Ayu, dalam dokumen itu bisa membuktikan ada dugaan uang yang diberikan AS kepada Indonesia. Serta, bukti Inggris membantu persenjataan ketika itu.

Negara-negara itu punya keterlibatan dan menjatuhkan tahta Soekarno ketika itu. Namun, sulit untuk membuktikan sebelum dokumen berisi kawat dari Amerika Serikat ke Kedutaan Besar AS saat terungkap.

Ayu menyebut AS sempat mentransfer sejumlah besar uang ke TNI AD usai peristiwa 1965. Hal itu menurutnya merupakan permintaan dari petinggi TNI AD.

"Itu tidak lama itu Oktober 1965 mereka memenuhi permintaan TNI AD untuk mentransfer uang. Inggris menyuplai senjata apalagi nih kan kita tidak tahu? Justru dokumen-dokumen itu belum dibuka sama Amerika," jelasnya.

Ayu menjelaskan dokumen yang saat ini terungkap lantaran desakan ke pemerintah AS untuk membuka arsip sesuai undang-undang di sana. Hanya saja pemerintah AS tidak membuka dokumen penting yang menyandung CIA.

Karena itu, Ayu menilai upaya pemerintah Indonesia menyenggol pemerintah AS sia-sia. Seharusnya, pemerintah Indonesia juga membuka arsip 65 guna membuka titik terang kebenaran sejarah. Dan dalam UU, pemerintah bisa didesak untuk mengungkapnya.

"Bahwa negara membuka dokumen-dokumennya itu harus. Ada UUnya kok jadi kita ga bicara ngawur," tutupnya.

Menanggapi dokumen-dokumen tersebut, Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu bakal menanyakan soal dokumen tersebut kepada Menteri Pertahanan AS saat bertemu di Filipina.

"Nanti saya temuin Menhannya. Saya akan ketemu dengan Menhan Amerika tanggal 25," kata Ryamizard di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (18/10).

Ryamizard meyakini dokumen rahasia yang dibuka Badan Administrasi Rekaman dan Arsip Nasional AS (NARA) tidak akan berpengaruh terhadap situasi nasional.

"Enggak saya bilang. Tergantung kita mau keruh atau tidak, kalau kita enggak mau, enggak mau lah, enggak usah. Kadang-kadang kita sendiri buat-buat," tegasnya. [ian]

Tragedi Kedung Kopi, saat PKI bantai 23 lawan politiknya

Tragedi Kedung Kopi, saat PKI bantai 23 lawan politiknya


Kisah kebiadaban PKI (Partai Komunis Indonesia) di Kota Solo, memang tak lepas dari peristiwa pembantaian di Kedung Kopi, 22 Oktober 1965. 23 warga Solo yang melakukan demonstrasi mengecam PKI, menjadi korban kekejaman komunis dan dibuang di salah satu sudut aliran Sungai Bengawan Solo, Kelurahan Pucangsawit, Kecamatan Jebres tersebut.

Saksi hidup Usman Amirudin (79), dan sejumlah warga yang mengalami peristiwa tersebut mengisahkan, saat itu puluhan pemuda yang hanya rakyat biasa ditangkap, ditembaki dan kemudian dibuang di Kedung Kopi. Saat ini lokasi yang merupakan bantaran Sungai Bengawan Solo itu, dibangun taman dan prasasti.

Usman yang saat ini bekerja di bidang konstruksi tersebut mengisahkan, terjadinya tragedi pembantaian bermula saat munculnya kabar dari Dewan Revolusi di Jakarta hingga terjadinya peristiwa penculikan sejumlah jenderal oleh PKI pada 30 September 1965.

Peristiwa di Jakarta tersebut, lanjut Usman, kemudian merembet ke Solo, apalagi Wali Kota Oetomo Ramelan yang menjabat saat itu berasal dari PKI. Beberapa prajurit militer di Solo, menurut Usman, bahkan juga anggota PKI.

"Setelah mendapat kabar itu, potensi masyarakat non-PKI (nasionalis dan agama) menyatu untuk saling menjaga. Suasana di Solo saat itu, setiap hari seperti perang, mulai 30 September sampai 22 Oktober, dan masing-masing gang ditutup oleh pihak kami," ujar Usman saat ditemui merdeka.com di rumahnya, Kelurahan Bumi, Laweyan, Rabu (26/9).
Tragedi Kedung Kopi, saat PKI bantai 23 lawan politiknya
Usman yang saat itu menjadi anggota Pemuda Muhammadiyah menambahkan, di saat bersamaan para anggota PKI yang tergabung dalam Pemuda Rakyat juga melakukan hal yang sama. Mereka berkeliling kampung untuk menteror masyarakat sipil.

"Sudah, masuk ke rumah masing-masing, ndak usah kumpul-kumpul. Ini urusan intern Angkatan Darat, masuk saja," ucap Usman menirukan kata-kata teror anggota Pemuda Rakyat.

Namun, lanjut Usman, masyarakat yang sudah bersatu, tak mau menuruti gertakan mereka dan tetap berjaga-jaga. Namun makin lama, sikap represif mereka semakin terlihat dengan cara mempersenjatai diri dengan parang, gebugan (alat pemukul), rantai dan lainnya.

Kondisi tersebut membuat masyarakat panik, karena mereka tidak tahu ke mana harus berlindung. Namun pada akhirnya, warga meminta bantuan ke Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) agar masuk ke Solo. Masyarakat menyambut kedatangan RPKAD pada 22 Oktober 1965 dengan suka cita. Namun sayangnya pada sore harinya RPKAD sudah kembali ke Magelang.

Prihatin dengan pemberontakan PKI di Jakarta, masyarakat Solo yang sudah merasa aman, selepas Zuhur melakukan aksi demonstrasi di depan toko batik kawasan Gladag Jalan Slamet Riyadi atau depan rumah tokoh yang ditengarai sebagai donatur PKI di Nonongan. Usai berdemo, para pemuda ini sudah diperintahkan untuk kembali ke posnya masing-masing.

"Kami sudah diperintahkan oleh komandan masing-masing, setelah Ashar harus pulang ke posnya masing-masing. Jadi saya harus pulang ke Balai Muhammadiyah," katanya.

Namun nahas, saat hendak pulang ada anggota CPM dan POL AU ( Polisi Angkatan Udara) yang menyusup ke rombongan pendemo. Mereka meminta para peserta demo untuk ke balai kota. Melihat keduanya berpakaian resmi, Usman dan para pendemo lainnya menuruti perintah dan menuju balai kota Solo, yang berjarak 400 meter.

"Ya sudah kita berbondong-bondong ke sana. Tapi belum sampai ke balai kota kita sudah disikat oleh militer. Ditembaki dari beteng itu. Setelah melihat peluru seperti kembang api, saya sembunyi. Saya bersama GPM (Gerakan Pemuda Marheinis) sembunyi. Makin malam makin kelihatan peluru itu. Kira-kira jam setengah tujuh (18.30) sudah agak reda itu, kami pulang. Rumah kami di Kusumoyudan depan Sahid Raya," tuturnya.

Namun sebelum pulang, lanjut Usman, salah satu keponakannya yang tinggal di Kampung Batangan, Pasarkliwon yang nekat melintas di lokasi, menjadi korban pembunuhan. Keponakan Usman yang masih berusia 13 tahun dan henda pulang dari rumahnya ke Batangan dicegat.

"Ternyata yang dibunuh di Kedung Kopi itu ada 22 orang, ditambah 1 orang dari Wonogiri. Kalau yang keponakan saya itu ditusuk di leher sampai tembus, hancur badannya," katanya.

Selang dua hari kemudian, giliran masyarakat yang melakukan operasi penangkapan terhadap para anggota PKI. Apalagi saat itu, RPKAD juga telah kembali ke Solo. Para tokoh komunis tak berdaya, tak berani lagi keluar rumah dan Kota Solo kembali dikuasai warga.

"Kalau ada yang mengatakan di Kedung Kopi itu PKI dibunuh, itu pemutarbalikan fakta. Justru PKI yang melakukan pembunuhan di sana. Karena di sana itu aman, masih seperti hutan. Mayatnya ya sudah dibiarkan di sana," jelasnya lagi.

Jembatan Bacem

Dalam peristiwa kekejaman PKI di Solo, Jembatan Bacem yang berada di atas aliran Sungai Besar (Bengawan) Solo, Kecamatan Grogol, Kabupaten Sukoharjo juga turut menjadi saksi bisu. Jembatan yang sudah dibangun ulang itu, dikenal sebagai tempat jagal para tahanan terduga anggota PKI atau organisasi yang berafiliasi dengan partai itu.

Sulit memang mencari saksi hidup peristiwa tersebut. Namun sejumlah warga di desa sekitar memang pernah mendengar cerita dari orang tua mereka. Sejumlah warga bahkan menceritakan adanya kisah mistis di lokasi itu.

"Sekarang jembatanya kan tinggal pondasi. Tidak bisa dirobohkan, tidak ada yang berani. Saat kejadian itu saya masih sekolah dasar," ucap Suko Haryono (59) warga Desa Telukan.

Dari cerita kedua orang tuanya, dikatakan memang lokasi tersebut menjadi tempat eksekusi anggota PKI. Mayat para penghianat bangsa tersebut kemudian dibuang ke aliran sungai.

Usman juga membenarkan jika Jembatan Bacem menjadi lokasi pembunuhan anggota PKI. Menurutnya, tidak hanya Jembatan Bacem, namun juga di Jembatan Jurug yang juga di atas aliran Sungai Bengawan Solo.

"Kalau Bacem itu dia (PKI) yang dibunuh oleh kita. Jembatan Bacem ada, Jurug juga ada," katanya lagi.

Usman menilai, konflik horisontal yang terjadi antara masyarakat dan PKI, bermula dari peristiwa pembunuhan di Solo. Masyarakat ingin melakukan balas dendam terhadap kekejaman PKI.

Kamp tahanan politik Sasono Mulyo

Tempat lain yang menjadi saksi tentang peristiwa kekejaman PKI di Solo adalah gedung Sasono Mulyo. Konon setiap malam ada tahanan yang diambil dari kamp penahanan di kompleks Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Dari lokasi ini, tercatat 71 orang hilang setelah diambil tentara pada malam hari.

Sasono Mulyo terletak di dalam wilayah Keraton Surakarta, tepatnya di sebelah barat Pintu Gapit, sebelah utara Bangsal Kemandungan atau berseberangan dengan Sasono Putra, tempat tinggal raja Paku Buwono XIII, yang berkuasa saat ini. Tempat ini merupakan kediaman resmi putra mahkota.

Kompleks Sasono Mulyo terdiri atas bangunan induk yang ditinggali oleh putera mahkota, dan bangunan tambahan di sepanjang sisi timurnya yang merupakan tempat para abdi dalem (pelayan) yang mengurus kebutuhan sehari-hari putera mahkota. Di bagian depan bangunan induk terdapat pendopo(serambi) berukuran kurang lebih 37,5x25 meter persegi.

Pengageng Parentah Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Kanjeng Gusti Pangeran Haryo (KGPH) Dipokusumo atau akrab disapa Gusti Dipo membenarkan jika saat itu, Sasono Mulyo menjadi tempat penahanan anggota PKI.

"Sasono Mulyo memang dipakai untuk menahan orang-orang yang diduga terlibat kegiatan G30S-PKI tersebut. Nah yang dipakai Sasono Mulyo adalah bangunan pendopo," terang Gusti Dipo.

Namun seiring perkembangan zaman, di era Paku Buwono XII akan menikahkan anaknya, GKR Alit tahun 1971, tempat tersebut dikosongkan. Sasono Mulyo kemudian dijadikan tempat hajatan saat keluarga keraton mantu.

Kemudian, lanjut Gusti Dipo, tahun 1975 Sasono Mulyo digunakan untuk kegiatan PKJT atau Pusat Kesenian Jawa Tengah. Setelah itu muncul lagi kegiatan seni yang tergabung dalam ASKI atau Akademi Seni Karawitan Indonesia, yang selanjutnya menjadi STSI dan sekarang menjadi ISI (Institut Seni Indonesia).

"Sak meniko kosong (sekarang kosong)," lanjut Dipokusumo.

Namun demikian, jelas Gusti Dipo, ada beberapa kegiatan resmi yang menggunakan Sasono Mulyo. Di antaranya acara pernikahan putra-putri atau keluarga keraton, kemudian jika ada keluarga keraton yang meninggal dan untuk kegiatan menyambut bulan Suro.

"Menawi Suro, ingkang sampun kelampahan meniko kangge ringgit wacucal kangge penutupan tahun. Kadang nggih kagem sarasehan utawi pertemuan-pertemuan sanesipun nate. (Kalau bulan Suro, yang sudah pernah dipakai untuk pentas wayang kulit, untuk penutupan tahun. Kadang juga untuk sarasehan dan pertemuan lainnya)," terangnya. [cob]

Kisah Pertempuran di Hari Raya Idul Fitri, TNI Tembak Mati Pemimpin DI/TII

Kisah Pertempuran di Hari Raya Idul Fitri, TNI Tembak Mati Pemimpin DI/TII


Tepat pada 3 Februari 1965, pasukan TNI melakukan pengepungan di sebuah hutan Sulawesi dekat Sungai Lasolo. Perintah operasi penyergapan ini dilakukan oleh Asisten Operasi dan Asisten Intelijen di bawah pimpinan Kolonel Inf Solichin GP dan diberi nama Operasi Kilat. Targetnya menangkap hidup atau mati Kahar Muzakar, Imam Republik Persatuan Islam Indonesia, bagian dari Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) yang sudah memberontak 14 tahun melawan pemerintah.

Pengepungan dilakukan dengan taktik tapal kuda, langkah ini dilakukan untuk mencegah Kahar Muzakkar kabur. Dalam rencana ini, sejumlah unit pasukan dari Yonif 330/Para Kujang I pimpinan Mayor Yogie S Memed digerakkan menuju lokasi, 4 kompi Kujang I ditugasi menyisir Sektor B dari selatan dan tenggara. Sedang Peleton 1 Kompi D pimpinan Peltu Umar Sumarsana berada di Sektor B.

Kehadiran Pasukan Kujang dari Siliwangi ini memang diminta khusus oleh Panglima Kodam Hassanudin Kolonel M Jusuf. Pasukan Siliwangi sebelumnya telah menangkap Kartosoewirjo, Imam Besar DI/TII di Jawa Barat dan mengakhiri pemberontakan selama belasan tahun itu. Sebagai Kepala Staf Operasi Kilat ditunjuk Kolonel Solichin GP, seorang perwira senior dari Siliwangi.

Kolonel Solichin GP menggunakan taktik yang sama dengan saat mengalahkan DI/TII di Jawa Barat. Dia yakin simpati rakyat bisa direbut karena kerusakan yang ditimbulkan Kahar Muzakkar sama dengan Kartosoewirdjo di Jawa Barat. Rakyat tak mendukung mereka lagi karena seringnya gerombolan ini melakukan aksi teror. Walau begitu tetap saja ada beberapa perubahan strategi di lapangan karena anak buah Kahar memiliki kemampuan tempur dan persenjataan yang lebih baik.

Namun satu hal yang membuat Pasukan Siliwangi bisa diterima oleh Rakyat Sulawesi adalah karena pembawaan alamiah mereka. Anggota pasukan ini dikenal taat salat berjamaah dan berkumpul dalam mushola bersama warga desa. Hal ini cocok dengan kebiasaan masyarakat setempat yang religius. Banyak warga yang sadar dan meninggalkan kelompok DI/TII.

1. Pasukan TNI Makan Daun
Merdeka.com - Sejak tahun 1964, perburuan pada Kahar Muzakkar makin gencar. Namun faktor sulitnya menembus belantara hutan Sulawesi menjadi penghalang pasukan TNI menangkap Kahar. Walau begitu posisinya makin lemah karena banyak pengikut yang menyerah. Termasuk istri Kahar yang bernama Andi Rawe.

Pada Januari 1965, tim RPKAD menangkap seorang perwira kepercayaan Kahar. Dia mengungkap Kahar berada di sekitar Sungai Lasolo.

Mayor Yogie S Memet memerintahkan pasukannya bergerak. Salah satunya adalah Peleton 1 Kompi D pimpinan Peltu Umar yang mulai bergerak sejak 27 Januari 1965. Pasukan ini hanya dibekali logistik untuk empat hari. Seharusnya sudah kembali ke markas mereka tanggal 31 Januari. Namun Peltu Umar menemukan petunjuk baru, dan memutuskan terus bergerak mengejar Kahar. Karena logistik sudah habis, pasukan terpaksa makan dedaunan untuk bertahan hidup.

Upaya mereka menyusuri Sungai Lasolo tidak sia-sia. Tanggal 1 Februari 1965, mereka menangkap menteri kesehatan RPII dan sejumlah simpatisan Kahar Muzakkar. Pasukan makin yakin posisi Kahar sudah dekat.

Tanggal 2 Februari, pasukan Siliwangi melihat seorang menggunakan rakit dengan membawa senjata. Pengintaian membawa mereka ke sebuah tempat dengan beberapa bivak atau tempat berlindung di tengah hutan. Namun Peltu Umar meminta anak buahnya tak bergerak.

Dia kemudian mengoordinasikan pasukannya untuk mengepung dan menutup jalur pelarian. Umar yakin target mereka adalah Kahar Muzakkar setelah mendengar sayup-sayup lagu 'Kenang-kenangan' yang merupakan lagu kegemaran Kahar.
Kisah Pertempuran di Hari Raya Idul Fitri, TNI Tembak Mati Pemimpin DI/TII
2. Pertempuran di Hari Raya
Merdeka.com - Tanggal 3 Februari 1965 dini hari, tepat di hari Raya Idul Fitri, Peltu Umar memerintahkan 30 prajuritnya menyeberang sungai. Sementara empat orang prajurit berjaga di seberang sungai mencegah kahar melarikan diri.

Saat matahari mulai terbit, Kopral Satu Ili Sadeli mendengar suara radio di balik rimbunan pepohonan, dia lantas mendekati sumber suara tersebut. Dari informasi saat itu, Kahar melarang warga yang berada di daerah kekuasaannya memiliki sebuah radio, kecuali dirinya sendiri. Suara tersebut ternyata berasal dari sebuah rumah.

Saat mendekati rumah itu, Sadeli memergoki seseorang yang sedang keluar dari rumah sembari membawa tas. Saat berpapasan, pria tersebut mencoba kabur, secara reflek Sadeli melepaskan tiga tembakan dari senapan Thompsonnya dan lelaki itupun tersungkur di tanah.

Saat diperiksa, laki-laki ini ternyata memakai jam tangan bermerek Titus, terselip pulpen Pelican di balik kantong bajunya. Selain Titus dan Pelican, Sadeli menemukan uang tunai sebesar Rp 65.000, jumlah yang amat besar saat itu. Dia mulai sadar, laki-laki ini adalah Kahar Muzakkar, buronan paling dicari oleh pemerintah.

Segera setelah memeriksanya, Sadeli segera melaporkan hasilnya ke pusat komando. Mayat Kahar lantas dibawa helikopter menuju Makassar untuk identifikasi. Untuk memastikannya, TNI AD hanya mengizinkan istri dan kedua anaknya untuk melihat mayatnya secara langsung, dan kepastian ini didapat dari putranya Abdullah.

3. Dikenali dari Gigi Emas dan Celana Dalam
Merdeka.com - Panglima Kodam Hasanuddin Kolonel M Jusuf mempersilakan warga yang ingin melihat jenazah Kahar Muzakkar. Dia memastikan yang tewas benar-benar adalah Kahar. Selain wajah, Kahar bisa dikenali lewat tiga ciri penting.

Pertama adalah tahi lalat, lalu gigi emas dan celana dalam yang dibordir dengan inisial KM. Dari informasi yang didapat Jusuf, Kahar tak mau memakai sembarang celana dalam kecuali yang dibordir oleh istri keempatnya.

Setelah warga melihat, Jenazah Kahar langsung dikubur di lokasi yang sangat dirahasiakan, tak seorang pun yang tahu lokasinya, termasuk keluarganya sendiri. M Jusuf tak pernah mau menceritakan di mana jenazah Kahar dimakamkan. Rahasia ini terkubur saat M Jusuf yang kelak menjadi Panglima TNI meninggal tahun 2004.

Kronologi Peristiwa Berdarah G30S/PKI Menurut Saksi Hidup

Kronologi Peristiwa Berdarah G30S/PKI Menurut Saksi Hidup, Selamat Karena Tertidur di Bawah Truk


Sukitman adalah polisi yang selamat dari peristiwa kejam G30S/PKI. Ia menuturkan apa yang terjadi di hari para jenderal diculik.

Melansir dari Intisari edisi September 1992, saat itu Sukitman tengah berjaga di Seksi Vm Kebayoran Baru (sekarang Kores 704) yang berlokasi di Wisma AURI di Jalan Iskandarsyah, Jakarta.

Jam menunjukkan pukul 03.00, Sukitman yang waktu itu berpangkat Agen Polisi Dua tengah melaksanakan tugas bersama rekannya yang berpangkat sama, Sutarso.

Sukitman mengatakan saat itu ia mendengar bunyi rentetan tembakan yang asalnya tidak jauh dari posnya.

"Waktu itu polisi naik sepeda. Sedangkan untuk melakukan patroli, kadang-kadang kami cukup dengan berjalan kaki saja, karena radius yang harus dikuasai adalah sekitar 200 meter," katanya.

Sukitman bergegas mengendarai sepedanya dengan cara melawan arah.

Sementara rekannya tetap berjaga. Sukitman tak menduga suara tembakan itu adalah awal dari penculikan para jenderal. Ia mengira telah terjadi perampokan.

Setelah mencari sumber suara, Sukitman menyadari tembakan itu berasal dari rumah Jenderal DI Panjaitan. Menurutnya, rumah tersebut sudah dikepung oleh pasukan.

Sukitman tidak mengetahui apa yang sedang terjadi, tiba-tiba saja seorang tentara berseragam loreng berbaret merah berusaha menghentikannya.

"Turun! Lempar senjata dan angkat tangan!"

Sukitman yang saat itu masih berusia 22 tahun mengaku kaget dan lemas. Ia langsung menyuruti apa yang diperintahkan. Kemudian, Sukitman diseret. Tangannya terikat dan matanya tertutup.

Ia dilemparkan ke dalam truk. Menurutnya, ia ditempatkan di samping sopir. Walapun dalam keadaan mata tertutup, Sukitman menajamkan instingnya. Ia ingin tahu kemana pasukan itu membawanya pergi.
Kronologi Peristiwa Berdarah G30S/PKI Menurut Saksi Hidup, Selamat Karena Tertidur di Bawah Truk
Namun, ia mulai kehilangan orientasi setelah mobil berbelok kanan dari arah Cawang. "Pokoknya, saya pasrah kepada Tuhan sambil berdoa," katanya. Kendaraan yang ditumpangi Sukitman berhenti.

Ia diturunkan dan tutup matanya dibuka. Sukitman belum terbiasa dengan keadaan yang serba terang benderang. Ia mendengar seseorang mengatakan ada yang sudah mati.

"Yani wis dipateni," ucapan itulah yang didengar Sukitman.

Setelah tentara yang menyandera Sukitman tahu bahwa ia adalah polisi, Sukitman dibawa ke sebuah tenda. Di tenda itu, tentara tersebut melapor kepada atasannya, "Pengawal Jenderal Panjaitan ditawan."

Sukitman melihat ada orang bersimbah darah dalam posisi telentang. Ada juga yang duduk di kursi dalam kondisi sama seperti orang telentang. Kemudian, Sukitman ditawan di depan rumah.

Hari semakin terang, Sukitman melihat dengan jelas sekelompok orang mengerumuni sumur yang jaraknya 10 meter dari tempatnya disandera.

"Ganyang kabir, ganyang kabir!," teriak orang yang berkerumun itu.

Tubuh manusia dilemparkan ke dalam sumur yang kemudian dihujani peluru.

Sukitman sempat melihat seorang tawanan dalam keadaan masih hidup dengan pangkat bintang dua di pundaknya, mampir sejenak di tempatnya disandera.

"Setelah tutup matanya dibuka dan ikatannya dibebaskan, di bawah todongan senjata, sandera itu dipaksa untuk menandatangani sesuatu. Tapi kelihatannya ia menolak dan memberontak. Orang itu diikat kembali, matanya ditutup lagi, dan diseret dan langsung dilemparkan ke dalam sumur yang dikelilingi manusia haus darah itu dalam posisi kepala di bawah," kenangnya.

Setelah aksi kejam itu berhenti, sumur tersebut diisi sampah dan ditancapkan pohon pisang. Orang yang menyandera Sukitman merasa ia bukanlah musuh. Ia dipanggil untuk menghadap Lettu Dul Arief yang menanyakan di mana senjata Sukitman.

Akhirnya Sukitman menjelaskan apa yang terjadi sebelum diseret ke tempat tersebut. Senjata Sukitman berhasil ditemukan walaupun dalam keadaan patah.

Sukitman dibawa ke Gedung Penas (daerah Bypass, sekarang Jalan Jenderal A Yani). Hari berganti malam, Sukitman yang masih dalam pengawasan malah diajak membawa nasi.

"Ke mana?," tanya Sukitman.

"Ke lubang Buaya, tempat para jenderal dibunuh," jawab Kopral Iskak, orang yang mengajaknya tersebut.

"Pada waktu itulah saya baru tahu bahwa yang dikatakan 'Ganyang kabir, ganyang kabir!' itu para jenderal," ungkap Sukitman.

Jalan yang diambil melewati Cililitan, Kramat Jati, Pasar Hek bukan sesuatu yang asing bagi Sukitman, karena dulu ia pernah mengikuti latihan di daerah itu.

Selesai mengambil nasi, mereka segera kembali ke Gedung Penas untuk membagikan nasi kepada pasukan.

Merasa lelah, Sukitman akhirnya tertidur. Hari telah berganti, namun peluang bagi Sukitman untuk melarikan diri sangatlah kecil. Kira-kira pukul 14.00 WIB, Sukitman merasa kepalanya pusing.

Ia memutuskan masuk ke kolong truk untuk berbaring. Sukitman menggunakan helm untuk mengganjal kepala, senjatanya yang patah ia letakan di dekatnya.

Kepalanya yang pusing diikat dengan scraf yang sebelumnya digunakan oleh pasukan yang menyanderanya. Saat Sukitman tertidur ia mendengar bunyi tembakan dari berbagai arah.

"Meskipun saya mendengar bunyi tembakan gencar, entah mengapa mata saya tidak mau diajak kompromi untuk melek," katanya.

Ketika terbangun sore hari skeitar pukul 16.00 WIB, Sukitman tidak bisa menemukan pasukan yang sebelumnya berjumlah banyak.

Ia hanya sendirian di tempat tersebut padahal truk masih berjejer. Setelah itu, ia bertemu dengan pasukan yang tengah mencari jejak anggota yang terlibat G30S/PKI.

Sukitman dibawa ke markas Cakrabirawa. Setelah bertemu dengan sejumlah orang, ia akhirnya dibawa ke jalan Merdeka untuk menghadap Panglima Kostrad Mayjen Soeharto.



Artikel ini telah tayang di tribunjabar.id dengan judul Kronologi Peristiwa Berdarah G30S/PKI Menurut Saksi Hidup, Selamat Karena Tertidur di Bawah Truk, http://jabar.tribunnews.com/2018/08/26/kronologi-peristiwa-berdarah-g30spki-menurut-saksi-hidup-selamat-karena-tertidur-di-bawah-truk.'\

Penulis: Fidya Alifa Puspafirdausi
Editor: Ravianto

Serbuan Dadakan Kopassus Buat Anggota Separatis Papua Lari Kelimpungan Sebelum Tewas Disambar Peluru!

Serbuan Dadakan Kopassus Buat Anggota Separatis Papua Lari Kelimpungan Sebelum Tewas Disambar Peluru!


Akhir tahun 1966, Irian Barat (Papua) membara karena pemberontakan terbesar terjadi di sana. Pemberontakan terbesar itu dipimpin oleh Lodewijk Mandatjan yang bermarkas di Kepala Burung Irian Barat.

Diklaim sebagai pemberontakan terbesar lantaran Mandatjan berhasil memobilisasi 14 ribu warga suku Arfak yang menjadi pengikutnya untuk masuk hutan. Dari hutan Mandatjan bersama anggotanya melakukan serangkaian kegiatan penghadangan, penyerangan dan pengacauan keamanan lainnya di kecamatan Warmare dan Ransiki.

Namun perlu diketahui jika Lodewijk Mandatjan bukanlah anggota Organisasi Papua Merdeka (OPM). Mandatjan dan suku Arfak yang dipimpinnya memberontak karena buruknya keadaan ekonomi di Irian Barat saat itu.

Baca: Gugur Ditembak KKB Papua, Serda Yusdin Posting Foto Pacar Tunggulah dengan Sabar Walau Tanpa Kabar Lodewijk Mandatjan sendiri ialah sebenarnya ialah seorang patriot pejuang Trikora saat Indonesia berusaha merebut Irian Barat dari Belanda.

Usaha-usaha Mandatjan dalam melakukan pemberontakan sangat meresahkan. Hingga pada awal 1967 pos Komando Rayon Militer (Koramil) di Warmare Sektor-B diserang oleh puluhan separatis Mandatjan.
Serbuan Dadakan Kopassus Buat Anggota Separatis Papua Lari Kelimpungan Sebelum Tewas Disambar Peluru!
Serbuan Dadakan Kopassus Buat Anggota Separatis Papua Lari Kelimpungan Sebelum Tewas Disambar Peluru!

Sialnya, Koramil hanya dipertahankan oleh 6 orang prajurit TNI. Meski begitu keenam anggota TNI itu tetap melawan dengan gigih. Kontak tembak sengit terjadi, selama seminggu kelompok separatis mengepung Koramil.

Keenam anggota TNI itu mulai menghadapi masalah menipisnya amunisi, kekurangan logistik, dan kurang tidur. Bahkan satu orang anggota TNI gugur hingga jasadnya terpaksa dikuburkan dalam markas lantaran kepungan rapat musuh.

 Irian Barat pimpinan Sintong Panjaitan yang ditugaskan di sana langsung disuruh menghadap Danrem 171/Manokwari Kolonel K.Sutrisno. Sintong yang baru saja menginjakkan kaki di bumi Cenderawasih langsung diperintahkan untuk membebaskan Koramil di Warmare.

Tanpa menunggu lagi, tim RPKAD yang berkekuatan 50 personil langsung berangkat menuju lokasi menggunakan dua buah truk. Petang hari tim RPKAD tiba di lokasi dan Serbuan mendadak tim RPKAD ini amat mengagetkan separatis. Mereka tak sempat bereaksi melawan dan hanya bisa lari kelimpungan berusaha menyelamatkan diri.

Tak ayal mereka menjadi 'sitting duck' alias sasaran empuk tim RPKAD yang menyambar nyawa musuhnya dengan peluru panas.

Banyak anggota separatis yang tewas akibat 'ulah' pasukan Komando Indonesia itu.

Sementara di pihak RPKAD tak ada satu anggota pun terbunuh.

Mengenal 4 Tokoh penting yang bergerak cepat Tumpas PKI

Mengenal 4 Tokoh penting yang bergerak cepat Tumpas PKI


Gerakan PKI yang telah menculik para jenderal dan ingin mengkudeta pada akhirnya bisa ditumpas. Para pemimpin gerakan itu ditangkap atau ditembak mati. Ada beberapa tokoh penting di balik penumpasan PKI.


Tokoh-tokoh ini dengan cepat melumpuhkan PKI yang menghabisi banyak orang. Berikut tokoh-tokoh penting yang cepat lumpuhkan PKI:

1. Sarwo Edhie
Merdeka.com - Komandan RPKAD (Resimen Para Komando Angkatan Darat), Sarwo Edhie ditunjuk untuk memimpin penumpasan PKI. Tak berpikir lama, Sarwo Edhie menyatakan kesiapannya menumpas para PKI. Terlebih lagi salah satu korban Gerakan 30 September 1965 teman dan pelindungnya di Angkatan Darat yaitu Jenderal Ahmad Yani.

Sarwo Edhie diberi tugas melenyapkan anggota PKI di lahan subur komunis di Jawa Tengah. Pada tahun 1989, sebelum kematiannya, Sarwo Edhie memberi pengakuan kepada anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) bahwa 3 juta orang tewas dalam pertumpahan darah ini.

Baca Juga:
Ketika Anggota TNI Gugur Dicangkul Underbouw PKI!
(Sejarah) inilah Rupa Tu-16 TNI AU, Pesawat Pengebom Paling Ditakuti Belanda!

2. Soeharto
Merdeka.com - Jenderal Soeharto, Panglima Kostrad (Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat) menjadi tokoh penting dalam penumpasan PKI. Soeharto menggunakan empat tahap untuk menghabisi para PKI.

Pertama, diusahakan untuk menetralisir pasukan-pasukan yang masih mengambil stelling di sekitar Medan Merdeka. Kedua, Soeharto memerintahkan untuk menduduki kembali gedung Pusat Telekomunikasi dan RRI.

Ketiga, pada pukul 20.00 WIB Soeharto berbicara di depan radio, menjelaskan kepada seluruh Rakyat Indonesia apa yang telah terjadi dan menerangkan tindakan-tindakan apa yang telah diambil. Keempat, Soeharto mulai memberikan pukulan maut kepada komplotan G30S dengan merebut PAU Halim. Tugas itu dipercayakan kepada RPKAD dengan bantuan Yon 328 Para Kudjang/Siliwangi.
Mengenal 4 Tokoh penting yang bergerak cepat Tumpas PKI
3. AH Nasution
Merdeka.com - Kolonel AH Nasution memegang kendali atas penumpasan PKI. Saat itu dia menjabat sebagai Kepala Staf Operasi Markas Besar Angkatan Perang RI. Kepada Presiden Soekarno, dia memaparkan rencana operasi penumpasan pemberontakan PKI di Madiun.

Keseluruhan operasi penumpasan pemberontakan PKI Madiun itu hanya diberi waktu dua minggu. Prajurit tuntas mengemban tugas, hingga tertangkapnya semua pentolan PKI.

Baca Juga:
Pemberontakan PKI Madiun 1948 Dan Tokoh Tokohnya
Momen Mendebarkan ketika TNI Lindungi Markas PBB Dari Serangan Tank Prajurit Kongo 

4. M Jasin
Merdeka.com - M Jasin salah satu orang penting dalam penumpasan PKI. Pada tahun 1965, M Jasin sebagai Panglima Kodam Brawijaya menggelar operasi militer untuk menumpas PKI.

Juni 1968, Operasi Trisula mulai digelar. Kolonel Wintarmin diangkat sebagai komandan. Tentara menyisir kawasan hutan Blitar Selatan untuk mencari pemberontak. Banyak anggota PKI yang tertangkap. Operasi Trisula mencatat 33 tokoh PKI ditembak mati. Sementara 850 tokoh PKI bisa ditangkap selama tiga bulan.

Kategori

Kategori